(Movie Review) Captain Marvel: Film Jagoan Perempuan Pertama di MCU

Vers (Brie Larson, yang kemudian dikenal sebagai Captain Marvel) adalah seorang Agen Starforce bersama dengan ras alien berwarna biru... Kree. Vers sebenarnya tidak begitu familiar di komik Capten Marvel, mungkin improvisasi ini dilakukan Marvel untuk penyesuaian cerita, yang mana seiring berjalannya film ini kamu akan mengetahui asal usul nama Vers itu nantinya. Vers tidak sendirian, di film ini pembaca komik akan mengenali ada anggota Starforce lainnya seperti: Korath the Pursuer (Djimon Hounsou, Guardian of the Galaxy), Minn-Erva (Gemma Chan, Crazy Rich Asians), Bron-Char (Rune Temte, The Last Kingdom), Att-Lass (Algenis Pérez Soto, Sugar), dan pemimpin mereka Yon-Rogg (Jude Law). Selain dibekali oleh peralatan canggih a la Kree, Vers memiliki kemampuan yang berbeda dari anggota lainnya berupa daya tahan fisik, dan kemampuan untuk menembakkan energi hebat dari tanggannya. Meskipun kadang dihantui oleh mimpi buruk, Vers tidak pernah ingat dari mana asal usul dirinya dan bagaimana dia mendapatkan kekuatan itu, yang dia ingat hanyalah kaum Kree menemukannya dan merawatnya di kampung halaman mereka di Hala.

Photo: Marvel Studios
Pada suatu ketika, Starforce ditugaskan untuk membebaskan mata-mata mereka yang dari tangan Skrulls, satu lagi ras alien berwarna hijau yang memiliki kehebatan dapat berubah bentuk menjadi mahluk lain. Skrull dipimpin oleh seorang Talos (Ben Mendelsohn, Ready Player One). Tidak ingin membahas terlalu dalam tentang cerita film ini, singkatnya peperangan antar-ras alien ini membawa seorang Carol Danvers ke planet C-53 (Bumi) pada 1990-an. Di sini, penonton akan diperkenalkan dengan dua orang agent S.H.I.E.L.D. yang sudah sangat dikenal yaitu Nick Fury (Samuel L. Jackson, masih muda dan dengan kedua mata utuh) serta Phil Coulson (Clark Gregg, dengan rambut yang masih lebat).

Apa sebenarnya yang diincar Skrulls dari Kree dan seorang Carol Danvers? Bagaimanakah akhirnya seorang Carol Danvers mendapat kekuatannya dan dikenal sebagai Captain Marvel? Mampukah Marvel menjawab semua asa penonton yang sudah menunggu film ini sejak lama dan menghubungkannya dengan jalinan panjang  cerita Avengers?

Seperti banyak dilaporkan, seorang Brie Larson kabarnya sampai harus menjalani latihan selama empat setengah jam sehari selama 10 minggu untuk dapat tampil prima di film ini. Meskipun begitu, menurut saya hanya ada satu scene pertarungan one-by-one yang tampak apik tanpa memerlukan pengeditan khusus yaitu scene sparring awal antara Larson dengan Jude Law, sisanya adalah pertarungan biasa dengan banyak editan dengan aktor yang tidak terlihat benar-benar bergerak. Jika harus membandingkan dengan film Marvel lainnya yaitu Black Panther, saya rasa film ini sangat jauh eksplorasinya di sisi itu.

Photo: Marvel Studios
Di awal tadi saya sempat bilang bahwa cerita akan membawa kita ke planet C-53 atau planet bumi pada era 90-an dan benar saja, hal tersebut digambarkan secara apik dan mendetail, bahkan untuk promosi brand tertentu ditampilkan dengan sangat halus mengikuti produk yang saat itu memang sedang hits. Saya menonton Captain Marvel di hari pertama penayangannya di jam 21.50 sehabis pulang bekerja, jujur saja saat  menonton 1/3 awal saya sedikit bosan sampai cerita masuk ke era vintage tersebutlah saya baru mulai semangat menonton dikarenakan banyak hal detail yang ingin saya ketahui tentang asal usul Captain Marvel, S.H.I.E.L.D., dan peperangan yang timbul di masa depan. 

Satu hal yang patut diapresiasi tinggi dan merupakan kekuatan dari film ini terletak pada hubungan antara Carol dan sahabatanya Maria Rambeau (Lashana Lynch), saya rasa Marvel sudah belajar banyak dalam menggali hubungan antar-manusia di setiap film mereka. Melihat hubungan antara Carol dan Maria Rambeau mengingatkan saya akan hubungan antara Steve Rogers dan Bucky Barnes, yang terikat dengan cerita masa lalu dan salah satunya lupa ingatan. Karakter Captain Marvel yang digambarkan di film dengan sangat apik diperankan oleh Larson. Bagaimana seorang Larson harus memainkan tiga peran dalam film ini: Vers, Carol, dan Captain Marvel. Dengan kisah yang berbeda dan tantangannya sendiri, dan masing-masing dapat diarahkan dan dihubungkan dengan baik oleh sutradara Anna Boden & Ryan Fleck.

Photo: Marvel Studios
Penggambaran karakter yang apik juga ditampilkan oleh karakter para penjahat yang mampu mencuri scene cukup banyak dan mengambil perasaan penonton. Lihat saja meskipun digambarkan sebagai seorang yang bertelinga runcing dan berkulit hijau, Mendelsohn sebagai Talos mampu membuat kita memahami tujuan jahatnya dan bahkan bisa saja berempati kepada hal tersebut, Marvel lagi-lagi sudah belajar banyak untuk menciptakan penjahat yang berkesan seperti Erik Killmonger dan Thanos dengan prinsip yang tegas dalam peran mereka, melakukan kerusakan tanpa tujuan.

Meskipun karakter protagonis dan antagonis utama digambarkan dengan karakter yang solid, namun tetap saja pencuri perhatian dalam film ini adalah Goose, yang sejak kemunculannya selalu mencuri perhatian hingga after-credit scenes ke-2. 
Sebagai film Marvel Cinematic Universe yang menghadirkan karakter protagonis wanita pertama, Captain Marvel hadir dengan tantangan yang cukup berat; fans Marvel sudah satu dekade lebih menantikan adanya film dengan jagoan wanita yang berdiri sendiri namun hal itu belum juga tiba meskipun mereka berteriak-teriak agar Black Widow dibuatkan filmnya sendiri... sampai tibalah 10 tahun kemudian film Captain Marvel ini. Kemudian tantangan juga datang dari studio sebelah, DC Entertainment, yang pada tahun 2017 lalu merilis Wonder Woman karya Patty Jenkins yang juga menuai sukses secara kritik maupun pendapatannya. Tentu saja hal ini memberi Captain Marvel tantangan yang berlipat karena selain harus disukai fans juga secara pendapatan harus menguntungkan perusahaan.

Tantangan Captain Marvel juga tidak datang dari luar, melainkan dari Studio Marvel sendiri tantangan tersebut hadir dan harus mampu dijawab oleh orang-orang yang terlibat di film ini mengingat tingginya harapan karena penonton pasti akan membandingkan dengan Thor: Ragnarok gubahan Sutradara Taika Waititi yang menghadirkan pakem baru kepada MCU, Doctor Strange dengan dunia ilusi nya yang keren, dan tentu saja film pemenang Oscar pertama dari Marvel... Black Panther di mana sutradara Ryan Coogler membawa penggemar Marvel jauh ke dalam cerita dan budaya bangsa Afrika Wakanda, dan mampu memecahkan box office. Kesemua film MCU sebelumnya juga sudah terjalin dengan rapi menjadi Avengers: Infinity War, yang mengaitkan 18 film sebelumnya, dan Captain Marvel hadir tepat sebelum film pamungkas MCU, Avengers: Endgame. Tentu saja hal itu membuat Captain Marvel amat ditunggu kedatangannya dan menjawab kemungkinan untuk menyelamatkan umat manusia dari Thanos. 

'masih ingat saya?'
So my verdict is... Captain Marvel sebagai film MCU dengan karakter jagoan perempuan pertama mampu menjawab begitu banyak tantangan yang dibebankan kepadanya. Karakter protagonis dan antagonis utama yang kuat dan penggambaran setting 90-an yang hampir tanpa cela menjadi kekuatan utama film ini. Pertarungan kapal luar angkasa, senjata laser, kecepatan cahaya, dan pertempuran antar suku di luar angkasa mengingatkan saya sedikit dengan Star Wars. Saya rasa tidak sedikit jika anda perhatikan beberapa adengan dalam film ini juga terinspirasi dari film Star Wars... ya sah-sah saja karena semua hak nya baik Marvel maupun Star Wars kan dipegang oleh Disney. Hanya saja Captain Marvel bagi saya memang mengingatkan akan saga Star Wars namun minus Jedi dan plot cerita yang solid, film ini terasa sangat terburu-buru wajar saja, semua tidak sabar menantikan Avengers: Endgame.

Score: 7.00

Comments

Must Read