(Movie Review) Murder on the Orient Express, Adaptasi Lagi untuk yang Kesekian Kalinya


Rating: PG-13 | Director: Kenneth Branagh | Writer: Agatha Christie | Runtime: 114 minutes
[May Contain Spoiler]

Agatha Christie; dunia mengenal dan menobatkannya sebagai Queen of Crime. Salah satu novel Agatha yang mungkin saja masterpiece nya adalah Murder on the Orient Express yang terbit tahun 1934. Novel ini bercerita tentang tokoh Agatha yang paling banyak dikenal orang, Hercule Poirot, yang mana seorang Poirot harus memecahkan pembunuhan di sebuah kereta dalam perjalanannya dari Istanbul ke Paris. Situasi yang sulit di mana saat itu pula kereta ditimpa kemalangan berupa longsoran salju sehingga Poirot dan penumpang lainnya terjebak tanpa bantuan yang memadai. Sehingga sang detektif harus berkejaran dengan waktu untuk memecahkan misteri pembunuhan di Kereta dengan hanya mengandalkan petunjuk yang ada di depannya, dan tentu saja kekuatan intuisi "sel abu-abu" miliknya. 

Pada 16 Juni 2015 lalu, 20th Century Fox menunjuk Kenneth Branagh untuk mengarahkan dan membintangi Poirot dalam sebuah adaptasi film baru dari cerita tersebut. Hal tersulit dalam mengadaptasi Murder on the Orient Express tentu saja karena endingnya sudah sangat terkenal. Cerita ini sudah pernah beberapa kali diadaptasi oleh berbagai sutradara, termasuk Sidney Lumet di tahun 1974 yang dibintangi Albert Finney. Lalu bagaimanakah kualitas film arahan sutradara Branagh dalam mengangkat kembali kisah sang detektif?

Photo: 20th Century Fox
Seorang penumpang meninggal dalam kereta pada perjalanan menuju Paris. Dia dibunuh, pembunuhnya ada di dalam kereta Orient Express tersebut dan sangat besar si pembunuh akan melakukan pembunuhan lagi. Sama seperti novelnya, ada dua belas tersangka di atas kereta, ditambah empat lainnya: Poirot (Kenneth Branagh), temannya Bouc (Tom Bateman), seorang konduktor kereta bernama Pierre Michel (Marwan Kenzari), dan tentu saja mayatnya yang bernama Edward Ratchett (Johnny Depp), seorang penipu yang diam-diam menjadi gangster Amerika yang terkenal karena mendalangi penculikan dan pembunuhan terhadap Daisy Armstrong, putri pahlawan Perang Dunia I Kolonel John Armstrong (Phil Dunster). Kasus ini memiliki kemiripan dengan peristiwa nyata Penculikan Lindbergh yang terjadi tahun 1932. Kematian Daisy menimbulkan tragedi lainnya; Ibu Daisy mengalami persalinan dini dan meninggal dunia, John Armstrong menembak dirinya sendiri, dan seorang pembantu yang tidak bersalah yang dituduh melakukan kejahatan melompat dari jendela. Sehingga sangat tidak heran seseorang Ratchett memiliki banyak musuh.


Karakter dalam film ini hampir tidak ada perbedaan dengan apa yang ada pada kisah orisinilnya. Hanya sedikit ubahan yang dilakukan oleh Branagh, misalnya jika di novel akan di temukan seorang Misonaris Swedia bernama Greta Ohlsson, di film ini kita akan menemukan seorang Pilar Estravados (Penélope Cruz).

Photo: 20th Century Fox
Jika di novel kita menemukan tokoh Antonio Foscarelli, salesman mobil asal Italia, maka di film ini menjadi Biniamino Marquez yang berasal dari Kuba, diperankan oleh Manuel Garcia-Rulfo.

Photo: 20th Century Fox
Sementara itu sang dokter Dr. Arbuthnot akan diperankan oleh Leslie Odom Jr. yang sebenarnya adalah gabungan dua karakter dari novel, Kolonel Arbuthnot dan Dr. Constantine.

Photo: 20th Century Fox
Melihat film ini mau tidak mau membuat saya selalu membandingkannya dengan versi novel dan film gubahan sutradara Sidney Lumet di tahun 1974. Beberapa perbedaan telah saya ungkapkan di atas, namun yang paling menarik tentu saja adalah karakter sang detektif, Hercule Poirot yang diperankan sendiri oleh Kenneth Branagh. Karakter Poirot yang diperankan Branagh bagi saya terasa sangat gelap dan kelam. Wajar melihat hal ini, karena dalam cerita kali ini ternyata sang detektif juga memiliki hubungan erat dengan tragedi Keluarga Armstrong dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi keputusan Poirot di akhir terkait keadilan.

Photo: 20th Century Fox
Meskipun di awal Branagh menampilkan sedikit bagaimana sikap Poirot yang jenaka dan perfeksionis, namun karakter Poirot milik Branagh terasa berbeda dengan karakternya di novel yang selalu digambarkan sebagai orang Belgia pendek yang tampak konyol dengan kepala berbentuk telurnya. Hal ini seringkali digunakan Poirot untuk mengecoh musuhnya yang menganggap dirinya adalah orang bodoh. Namun hal itu bukan kekurangan karena saya menyukai karakter Poirot-nya Branagh lebih dari versi film sebelumnya. Satu hal lagi yang patut disanjung dari karakter Hercule Poirot versi Branagh adalah kumisnya! Persis seperti yang saya bayangkan saat membaca novelnya, yang digambarkan dengan kumis yang sangat besar, seperti ada kain bulu di bawah hidung.

Tidak ada masalah dengan Kenneth Branagh sebagai Poirot. Kekurangan justru hadir dari tokoh dengan nama besar lain mulai dari Johnny Depp (Pirates of the Carribean) dan Leslie Odom, Jr. sampai Josh Gad (Beauty and the Beast) dan Michelle Pfeiffer hingga Penélope Cruz dan Daisy Ridley (Star Wars); tidak ada satupun dari mereka yang diberi kesempatan untuk bersinar di film ini. Semuanya digambarkan secara terburu-buru sehingga saat akhir film bahkan saya lupa dengan apa saja yang telah mereka katakan sebelumnya.  

Photo: 20th Century Fox
Kekurangan kedua dari film ini adalah kurang mendalamnya eksplorasi karakter dengan baik sehingga setiap kemunculan karakter akan membingungkan penonton, seringkali tertukar antara si Pengasuh Inggris dengan seorang Pelayan Wanita Jerman, atau Pelayan Pria Tua dengan Si Supir. Hal ini terjadi karena Branagh hanya fokus bagaimana merangkai plot tanpa terlalu memikirkan eksplorasi karakter.

Photo: 20th Century Fox
So my verdict is… Murder on the Orient Express adalah film yang sangat berpotensi dengan bintang bertabur di dalamnya dan materi cerita klasik yang sudah sangat matang. Film ini ditunjukkan sebagai fan service yang sayangnya tidak terlalu berhasil bagi anda yang telah membaca novelnya, dan juga sebagai pengenalan kepada sosok detektif terhebat bagi anda yang belum pernah membaca novelnya. Selain peran yang dilakoni Branagh sebagai Poirot, saya menyayangkan banyaknya potensi yang terbuang akibat eksplorasi yang kurang untuk karakter lainnya. Jujur saja saya kecewa karena hal satu ini, deretan cast yang mentereng tadi seakan tersia-siakan, bukan berarti mereka berakting jelek, hanya saja kurangnya eksplorasi dan penyelesaian yang buru-buru membuat saya meninggalkan bioskop tanpa kesan. Untung saja Desember ini saya bisa melihat lagi Daisy Ridley di film Star Wars: The Last Jedi.

Score: 7.00

Must Read