(Movie Review) Justice League, Mimpi Manis yang terasa Hambar


Review ini mungkin mengandung spoiler untuk ending film ini maupun film DC lainnya seperti Man of Steel, Batman v. Superman, Suicide Squad, dan Wonder Woman. Jadi, jika anda belum menonton judul-judul tersebut, saya sarankan berhenti membaca di sini. Kalo anda tidak masalah, silakan lanjutkan membaca, you’ve been warned!


Photo: Warner Bros/DC
Warner Bros akhirnya merilis Justice League dengan segala halangan yang ada. Melihat beberapa film yang mereka rilis sebelumnya, harus diakui walaupun saya lebih menyukai superhero DC ketimbang Marvel, namun usaha Warner Bros bersama DC saya anggap tidak begitu berhasil untuk penonton maupun fans DC garis keras. Meskipun secara pendapatan box office film mereka tidak buruk-buruk amat, keempat franchise DC yang ada sampai saat ini hanya satu yang mendapat ulasan positif secara global (Wonder Woman), satu dengan ulasan biasa-biasa saja tidak jelek dan tidak terlalu bagus (Man of Steel), dan dua yang dianggap sangat buruk (Tentu saja, Suicide Squad dan Batman v. Superman: Dawn of Justice).

'Katanya Batman v. Superman jelek banget ya?'
Beberapa penonton selalu membandingkan cinematic yang diciptakan DC dan Marvel; menurut saya kedua hal itu tidak bisa dibandingkan apalagi kalau sampai DC harus menjadi Marvel dan Marvel harus menjadi DC. Saya menyukai dunia yang gelap dan kelam ala DC. Maka tidak heran sutradara Zack Snyder yang terkenal dengan adaptasi film 300-nya ditunjuk untuk menjahit saga DC Extended Universe dan dia mengawalinya dengan melakukan reboot film Superman (Man of Steel, 2013); Snyder yang terkenal stylish dengan penggunaan visual yang kelam dan heboh dirasa pas untuk mengawali franchise ini, dan hasilnya pun ternyata tidak buruk-buruk amat untuk sebuah pembuka. Namun sayangnya tahun 2016 penonton dan fans DC dihajar dengan kekecewaan oleh Suicide Squad dan Dawn of Justice, pertengahan tahun 2017 lalu angin segar datang dari Warner-DC lewat film Wonder Woman. Menyaksikan film Wonder Woman saya seperti melihat adanya fatamorgana dari franchise ini, harapan saya cukup meningkat untuk menonton lanjutan DCEU lewat film Justice League di akhir tahun 2017 ini. Lalu bagaimanakah kualitas film yang menjadi mimpi manis sejak lama dari para fans DC ini?

Film ini diawali dengan benturan beberapa gagasan dan strategi perusahaan sebagai akibat dari mundurnya sutradara Zack Snyder menyusul kematian puterinya yang melakukan bunuh diri. Maka diserahkanlah kursi sutradara kepada Joss Whedon untuk menyelesaikan film tersebut, dan menjahit semua rekaman yang telah dilakukan Snyder serta mengambil ulang beberapa adegan, dan yang paling terlihat tentu saja unsur komedik khas Whedon sebagaimana film Avengers yang pertama dipastikan hadir di film ini. Warner dan DC menyadari betul bahwa membangun DCEU sesuai dengan rancangan Snyder tidak terlalu disukai oleh banyak kritikus dan fans, sampai sutradara Wonder Woman Patty Jenkins hadir dengan sebuah film yang mirip dengan skema warna ala Snyder namun nada yang lebih ringan dan pandangan yang lebih manusiawi. Maka tentu saja hal itu dirasa adalah formula yang pas untuk dimasukan ke Justice League, yaitu dengan memasukan lebih banyak unsur film Wonder Woman. Hal ini otomatis membuat Justice League mengemban tugas berat dan arah yang harus dituju.

'Hmm.. saya harus mulai dari mana nih?'
Ribuan tahun sebelum umat manusia sekarang dan munculnya para superhero, ada sebuah era yang disebut sebagai “Era Para Pahlawan”. Era ini adalah saat bangsa Themyscira, Atlantis, serta bangsa-bangsa di bumi hidup berdampingan dan saling menjaga sampai muncul seorang Steppenwolf (Ciaran Hinds); jendral alien kejam yang berasal dari planet lain turun ke Bumi bersama pasukan-pasukan Parademons-nya, membawa tiga buah “Motherbox” yang memiliki kemampuan untuk menjadi pemicu bencana besar karena mampu menghancurkan suatu planet menjadi bentuk lainnya (neraka) tujuannya adalah untuk menjadikan bumi sebagai tempat bagi Darkseid.

Namun usaha tersebut digagalkan oleh penjaga bangsa-bangsa tersebut. Sehingga sebagai warisannya, Steppenwolf meninggalkan tiga buah Motherbox tadi yang kemudian diambil dan disembunyikan oleh masing-masing kaum. Sebagaimana sudah dapat kita tebak, bahwa event Justice League akan bercerita dengan datangnya kembali Steppenwolf untuk mengambil ketiga ‘harta karun'-nya tersebut.

'ini apaan ya?'
Justice League diawali dengan event setelah perang besar di Dawn of Justice, yang diakhiri dengan kematian Superman. Sebuah kejadian yang menyedihkan, tidak hanya bagi para rekan sejawatnya, namun bagi seluruh umat manusia. Dunia kehilangan harapannya dan berduka dengan kematian Superman. Di tengah-tengah suasana duka akibat kematian Kal-El, Bruce Wayne/Batman (Ben Affleck) menyadari ada bahaya yang akan segera datang, bersama dengan Diana Prince/Wonder Woman (Gal Gadot) mereka berusaha mengumpulkan kekuatan lain (para metahuman) dan membentuk sebuah tim superhero karena mereka yakin bahwa kekuatan yang akan dihadapi ini sangatlah besar. Tiga manusia super lain tersebut adalah Barry Allen/The Flash (Ezra Miller) yang pada film ini karakternya mirip seorang Barry Allen + Sheldon Cooper (The Big Bang Theory), Arthur Curry/Aquaman (Jason Momoa) dengan karakter om-om selon tukang mabuk, dan Victor Stone/Cyborg (Ray Fisher) seorang mantan atlet yang mengalami kegalauan karena bapaknya mengubah dia menjadi robot.

'Let's get kick him out!'
Selain kisah Batman dan Superman yang sudah sangat sering dibuat standalone movie nya, mungkin banyak yang belum tahu kisah origin The Flash, Aquaman, dan Cyborg. Ini juga salah satu pe-er besar Warner Bros dan DC dalam film ini, namun mengingat banyaknya yang harus diceritakan DC hanya menampilkan secara singkat origin dari Cyborg dan Aquaman; untuk The Flash bahkan hanya ditampilkan melalui dialog, ‘…saya disambar petir’. Justice League mengadaptasi beberapa elemen yang ada di direct-to-video animated DC yang berjudul Justice League: War, hal yang sudah wajar karena War memiliki cerita yang lebih generik ketimbang Justice League: Flashpoint Paradox dengan banyaknya unsur time travel yang mungkin saja akan membingungkan penonton yang belum akrab dengan cerita komik DC atau The Flash.


Menonton Justice League bagi saya adalah pengalaman yang cukup mendebarkan, mengingat trauma masa lalu saat menyaksikan film DCEU dengan twist menyebalkan, ‘Jadi nama ibumu Martha juga?’. Sebuah twist ringan hadir di tengah film ini dan tidak terelakkan mengubah dinamika film secara signifikan, dan terasa melebih-lebihkan ceritanya, serta menaikan tempo pertempuran. Hadirnya Joss Whedon terasa sangat jelas di film ini, seperti saat Flash dan Cyborg berbagi momen pribadi singkat di sebuah kuburan dan jokes yang dilempar Barry mengingatkan saya pada momen-momen menonton The Avengers yang pertama dulu.


So my verdict is… Justice League adalah sebuah film yang rapuh dan kikuk. Berjalan tanpa fokus yang jelas. Bagi penggemar film Wonder Woman, tentu akan menyukai kilas balik pertempuran ala Amazon yang intens. Bagi penggemar film superhero yang agak melankolis mungkin akan menyukai bagaimana seorang Cyborg kehilingan sisi eksistensinya sebagai manusia biasa karena musibah yang diterimanya. Penggemar film aksi tentu akan menyukai banyaknya ledakan-ledakan dan adegan main hantam di film ini. Ini adalah film Zack Snyder dan Joss Whedon. Semuanya memiliki fans dan haters masing-masing, namun sayangnya Warner-DC seakan didikte penonton, tanpa fokus memikirkan satu jalinan cerita yang apik. Oooh… and that CGI failed me! 

Score: 6.8

Must Read