(Movie Review) Pengabdi Setan, Tetap Seram


Director: Joko Anwar
Writer: Joko Anwar (originally written by Sisworo Gautama Putra)
Runtime: 107 minutes

Nenek (Elly D. Luthan), Ibu (Ayu Laksmi), Ayah (Bront Palarae), Rini (Tara Basro), Toni (Endy Arfian), Bondi (Nasar Annuz), dan Ian (M. Adhiyat) adalah sekeluarga yang tinggal di sebuah rumah tua yang sedang dijaminkan untuk membantu penyembuhan Ibu. Keluarga Ibu digambarkan sebagai keluarga yang saat ini mengalami kesulitan keuangan. Namun, melihat dari pakaian dan perabot rumah yang ada masih jelas tergambar sisa kekayaan masa lalu. Ibu, dulunya adalah seorang seniman dan penyanyi. Tiba-tiba Ibu mendadak sakit dan selama 3 tahun ini Ibu hanya terbaring di ranjangnya. Karena Ibu tidak lagi berkarya dan mampu menjual albumnya, maka keluarga ini pun hidup serba kekurangan dan menjual apa saja asal dapat dijadikan uang.

Setelah berjuang dengan sakitnya, Ibu akhirnya mati meninggalkan keluarganya. Apakah benar Ibu telah meninggalkan Ayah, Rini, Toni, Bondi, dan Ian untuk selamanya? Apa hubungan penyakit Ibu dengan Pengabdi Setan? Mampukah keluarga kecil ini bertahan setelah kematian Ibu?


Pengabdi Setan adalah film horor pertama dari seorang Joko Anwar. Well, Joko pernah membuat beberapa film horor pendek, sih. Tapi inilah film horor pertamanya dalam format layar lebar. Melihat film Pengabdi Setan gubahan Joko saya seperti melihat karya seorang Joko Anwar setelah digabung dengan gaya horor populer yang ada saat ini. Banyak jump-scare yang diberikan Joko hampir serupa dengan pakem yang ada sekarang. Kalo kamu jeli, kamu pasti akan mengenali juga hal-hal yang saya maksudkan itu, dan dari film apa hal itu berasal.

Kalau ada yang bilang Pengabdi Setan adalah film horor yang paling seram, saya rasa mereka belum terlalu sering menonton film horor. Meskipun begitu, saya akui Pengabdi Setan memang memang memiliki atmosfer yang menyeramkan dan tensi yang cukup terjaga sepanjang film. Namun, cukup saja tidaklah pernah cukup, masih banyak scene yang terkesan dragging sehingga saya yang menonton di bioskop jam 20 masih sempat curi-curi waktu untuk memejamkan mata tanpa kehilangan poin penting. Disayangkan juga trik-trik yang digunakan Joko untuk menakuti penonton bukanlah hal yang benar-benar baru, namun hal tersebut tertolong dengan setting tahun 80an yang detil dan apik sehingga atmosfer horor sudah terasa bahkan sejak awal film. Satu lagi kekurangan yang cukup fatal dapat ditemukan di ¾ film ini yang entah mengapa Joko seakan terburu-buru ingin menyelesaikan film sehingga membiarkan banyak lubang dalam ceritanya.

Bocan, Bobo-bobo Cantik

Setiap memberikan ulasan film, bagi saya yang terpenting bukan saja soal cerita atau bagaimana serunya film tersebut. Lebih dari itu, saya selalu berusaha melihat bagaimana hubungan antar karakter dalam film dibangun. Pengabdi Setan sukses dalam hal tersebut. Joko yang sudah biasa membangun cerita dengan genre Thriller pasti tahu betul bagaimana dia harus membuat penonton simpatik kepada keluarga Tara Basro, Bront Palarae, Endy Arfian, Nasar Annuz, dan M. Adhiyat. Kecerdikan Joko juga terlihat bagaimana ia mampu mengarahkan karakter anak kecil yang diperankan sehingga dapat berakting secara natural.

'Duduk dulu ah, capek..'

Sedikit membandingkan dengan film terdahulunya, Joko mengambil sudut pandang yang berbeda dari film Pengabdi Setan tahun 1981, yang mana fim horor saat itu mengambil pendekatan bahwa orang yang kaya pasti hidupnya jauh dari Tuhan, dan kejahatan selalu dapat dikalahkan dengan kebaikan. Sementara di sini Joko lebih menonjolkan sekte-sekte pengabdi setannya dan bagaimana itu semua melatarbelakangi keseluruhan cerita. Kalau kamu sudah menonton semua film Joko saya rasa kamu bakal menyukai akhir film ini, itu Joko Anwar banget.

'Eh, tau gak?'

So my verdict is… kalau kamu menyukai film horor maka kamu wajib menonton film ini, namun jika kamu memang penggemar horor jangan terlalu berharap mendapatkan hal-hal baru dalam film ini. Joko boleh saja memaksakan banyak hal dalam film ini ditambah lagi trik lawas yang basi tetapi tetap saja film ini adalah horor lokal terbaik yang pernah saya tonton. Silakan tonton dan seru-seruan bareng!

Score: 7.5