(Movie Review) Ant Man, Penutup Phase 2 yang Apik!


‘Itu superhero apaan sih? Bajunya kayak kang Ojek ya…’

Ya. Tidak bisa disalahkan juga komentar yang muncul seperti itu pada awal teaser film Ant-Man disebar, toh memang jaket yang dipakai Ant-Man mirip seperti jaket motor kang ojek lengkap dengan helm SNI nya, bahkan Paul Rudd yang memerankan tokoh Ant-Man sendiri menggunakan jokes tersebut dalam film. Sebelum melanjutkan, saya akan sedikit memperingatkan bahwa mungkin saja ada sedikit spoiler dalam review ini, namun sebisa mungkin saya menghindari hal tersebut, maka beberapa hal tidak saya tuliskan di review ini.

Well, bagi orang yang tidak seberapa akrab dengan komik Marvel mungkin akan mengira Ant-Man adalah salah satu karakter superhero yang ‘baru’ diciptakan, hal itu wajar, mengingat dalam membangun dunia Marvel Cinematic sendiri Marvel memang menggunakan Iron Man yang waktu itu belum banyak dikenal penonton yang tidak membaca komik. Kudos untuk para kreatif dibalik pembangunan Marvel Cinematic Universe, atau ‘Dunia Marvel dalam Bentuk Film’. Marvel Cinematic Universe adalah hal besar yang dimulai pada tahun 2008 lalu dengan film Iron Man. Cinematic Universe tersebut selanjutnya akan dibagi-bagi lagi dalam beberapa fase, sebagai contoh fase atau  babak cerita pertama ditutup dengan film The Avengers pertama, kemudian fase kedua pun sekarang telah ditutup dengan film Ant-Man yang tayang H-1 Lebaran Idul Fitri 1436 H kemarin. 

Ant-Man Poster (?)

Ant-Man sebenarnya adalah proyek ambisius dari seorang bernama Edgar Wright. Bahkan pada tahun 2006 (2 tahun sebelum film Iron Man rilis), Edgar telah mengungkapkan ambisi nya untuk film Ant-Man ini. Ya, dan pada akhirnya sampai pada tahun 2014 lalu Edgar Wright yang sempat dipercaya sebagai sutradara harus mundur dikarenakan permasalahan dengan para petinggi Disney Marvel. Dikabarkan dari beberapa media online luar, bahwa ada ketidakcocokan antara draft yang ditawarkan Edgar dengan keinginan para petinggi. Namun, walaupun begitu nama Edgar tetap dimasukan dalam credit film ini dan beberapa cerita yang ditulisnya juga tetap dipakai. Kemudian, nama Edgar Wright digantikan oleh sosok Peyton Reed yang pernah menyutradarai film komedi macam Yes Man dan Bring it On. Lalu, bagaimanakah kemudian kualitas film Ant-Man sendriri?

Bagus, kok!

Scott Lang (Paul Rudd) adalah seorang narapidana yang dipenjara akibat kasus pencurian yang dilakukannya, selain dipenjara akibat yang harus ditanggung oleh seorang Scott Lang adalah ia harus kehilangan Istri nya Maggie Lang (Judy Carter) yang menikah lagi dan anak perempuannya Cassie Lang (Abby Ryder Forston) yang terpaksa harus tinggal bersama ayah barunya. Akibat keputusasaan dan penyesalan atas apa yang telah dilakukannya tersebut maka Scott berkomitmen untuk berhenti menjadi seorang pencuri dan hidup lurus dengan mencari pekerjaan yang halal. Bersama teman nya, Luis (Michael Peña) ia mengutarakan keinginannya tersebut, namun hidup dan mencari kerja dengan status ‘Mantan Narapidana’ bukanlah hal yang mudah. Ditengah kebutuhan untuk bertahan hidup sebenarnya Luis dan kawan-kawannya memiliki sebuah misi untuk mencuri sebuah brankas berisi barang berharga di dalam sebuah rumah, mereka membutuhkan Scott untuk melakukan misi itu mengingat Scott dianggap sebagai seorang pencuri yang tangguh. Namun hati Scott mengatakan dia ingin berbuat baik dan tidak ingin mencuri lagi. Di tempat terpisah, seorang ilmuwan bernama Darren Cross (Corey Stoll) sedang mengembangkan teknologi baru yang memungkinkan untuk menjadikan kecil suatu benda, dan teknologi tersebut dipercaya akan mampu membawa manusia kepada masa damai. Untuk itu ia meminta bantuan seorang Hank Pym (Michael Douglas), ilmuwan pendiri Pym Technologies. Bagaimanakah kelanjutan nasib seorang Scott Lang? Akankah ia berhasil mencuri benda berharga yang ada di brankas tadi? Berhasilkah seorang Darren Cross untuk membuat teknologi baru yang dapat membawa perdamaian tersebut?

Produksi film Ant-Man tidak bisa dikatakan sebagai produksi yang lancar-lancar saja, bahkan setelah diumumkan mundurnya sang sutradara Edgar Wright pada tahun lalu, banyak fans yang langsung skeptis akan film ini. Wajar, mengingat Edgar telah mengerjakan dan merencanakan proyek film ini jauh-jauh hari. Bahkan secara umum orang yang bukanlah penggemar komik Marvel juga skeptis tentang konsep awal film ini, bagaimana mungkin seorang superhero yang menamai dirinya Ant-Man (yang berarti ia hanya seukuran semut) bisa menjadi seorang superhero! Namun sepertinya
dengan mantap sutradara Peyton Reed menjawab keraguan tersebut. Walaupun ada sedikit elemen heist yang dikurangi dari draft asli yang dibuat Edgar Wright, namun Reed tetap memakainya secara pas di bagian tertentu dalam film ini. Terkesan agak rusuh memang saat seorang Michael Pena menarasikan rencana pencurian yang akan dilakukan, jangan berharap heist disini panjang-panjang, karena bagaimanapun ini tetaplah sebuah film superhero, bukan film dengan genre heist. Saya rasa saya akan selalu menyukai gaya penceritaan yang dibawa Disney Marvel ke dalam Marvel Cinematic Universe nya, karena dengan nama besar Disney tentu saja film-film superhero ini sangat aman ditonton untuk anak-anak kecil dan mudah untuk diikuti, tidak gelap seperti dunia Marvel yang dibangun dalam dalam TV Series nya.

Saya akan memberikan apresiasi tinggi kepada sosok Michael Peña yang setiap kemunculannya selalu mencuri perhatian dan tawa penonton di bioskop. Ya, saya menyukai hal tersebut dan memang itulah kekuatan terbesar Marvel dalam setiap film nya. Mencampurkan jokes cerdas dan lelucon yang tidak terasa terlalu bodoh untuk dinikmati. Sosok Paul Rudd yang dipercayai untuk menjadi sebagai seorang Ant-Man saya rasa adalah pilihan yang tepat. Ant-Man bukanlah seorang superhero kaya macam Tony Stark, ia hanyalah seorang mantan narapidana kelas menengah yang memiliki keluarga dan hal-hal remeh lainnya, dan Paul Rudd memerankan sosok tersebut dengan pas tanpa kesan minta dikasihani. Elemen drama sedikit hadir dari sudut pandang keluarga Scott Lang, dimana ia harus berjuang untuk dapat kembali mendapatkan kepercayaan sang istri dan berkumpul dengan anaknya. Hal tersebut juga coba di formulasikan kepada sosok Dr. Pym dan anaknya Hope van Dyne (Evangeline Lilly). Michael Douglas bukanlah aktor kemarin sore, maka perannya sebagai Dr. Hank Pym yang genius namun selalu mampu bersikap tenang dalam setiap tekanan.

Scene Stealer

Sosok villain utama dalam film ini memang bukanlah sosok yang terlalu sulit untuk dikalahkan mengingat ukurannya pun juga hanya seukuran serangga kecil. Namun para petinggi Marvel dan Sang Sutradara tahu bahwa film ini memiliki konsep yang sedikit konyol bagi sebagian orang, jadi mengapa tidak menghadirkan saja beberapa kekonyolan dalam beberapa scene nya? Ya, dan itu berhasil.

So my verdict is, Ant-Man adalah bukti bahwa film superhero dari dunia Marvel selalu menarik untuk disaksikan semua umur. Marvel telah menutup fase kedua dari Marvel Cinematic Universe nya dengan film Ant-Man ini. Banyak easter egg yang ditebar di dalam film ini untuk persiapan fase ketiga dari Marvel Cinematic Universe yang sangat besar dan ambisius. Jika kamu menonton film ini pastikan ajak semua anggota keluarga kamu. Siapa yang harus menonton film ini? Film ini wajib ditonton bagi Kamu yang telah menyaksikan setiap film Marvel pada beberapa tahun terakhir ini, juga bagi penonton casual yang mengharapkan sebuah hiburan yang bagus pastikan datang ke bioskop dan tonton film ini! Film ini tidak cocok untuk kamu yang terlalu over-nasionalisme dan mengharapkan Daniel Mananta yang berperan sebagai Ant-Man.

Semut Lokal

PS: ada dua scene tambahan dalam film ini, dan saya sarankan Kamu menontonya. Scene pertama muncul beberapa menit setelah film habis, scene kedua ada di ujung sekali setelah credit film berakhir, agak lama namun menarik kok untuk disaksikan.

Nilai: 4.5/5.0 (B+)