(Movie Review) The Voices - Komedi Kelam a la Marjane Satrapi


Marjane Satrapi, adalah seorang berdarah Iran - Perancis yang selain sebagai sutradara, ia juga lebih dikenal sebagai seorang penulis dan ilustrator. Untuk urusan film, Satrapi mulai dikenal orang lewat beberapa film yaitu, Persepolis (2007), Chicken with Plums (2011), dan Gang of the Jotas (2012) tidak hanya pujian yang dia dapatkan dari film tersebut, namun juga menuai banyak kontroversi karena film-film yang ia hadirkan menyoroti keadaan sosial politik negara kelahirannya, Iran. Pada tahun 2014, dan mulai tayang di beberapa bioskop di Indonesia pada tahun 2015 ini, Satrapi kembali menghadirkan sebuah film dengan nuansa gelap namun lebih menonjolkan sisi komedinya. Film dengan nuansa Black Comedy kadang memang tidak dapat dinikmati semua orang, namun dengan cerdas Satrapi mampu membuat film The Voices yang tidak hanya cerdas dan tajam, namun juga cukup sederhana untuk dinikmati sehingga kita tidak perlu susah-susah untuk tertawa getir terhadap sarkasme yng dihadirkan.

Scene awal dari film The Voices dibuka dengan nuansa sarkatis dimana kita diperlihatkan suasana kota kecil yang biarpun kehidupannya terlihat membosankan namun orang-orang disitu selalu mencoba untuk selalu bahagia. Adalah Jerry Hickfang (Ryan Reynolds), seorang pekerja di sebuah pabrik mainan di mana para pekerja di bagian pengepakan barang nya berpakaian merah muda, well tidak hanya berpakaian merah muda, pun nuansa tersebut akan mudah ditemui di setiap sudut kantor. Bahwa sosok Jerry adalah sosok orang yang sangat positif dan bersemangat, setidaknya untuk dirinya sendiri. Dengan semangat ia setuju untuk dimasukkan ke dalam tim guna merencanakan pesta kantor, dengan semangat pula ia merencanakan tarian conga ditambah alunan lagu Sing a Happy Song yang hampir terasa membosankan karena selalu dimainkan setiap acara pernikahan. Lagi-lagi, Jerry adalah seorang yang ditampakkan begitu ceria dan menghibur bagi teman-teman sekerjanya. Namun, sekembalinya ke rumah, Jerry mulai mendengar suara-suara yang mengajaknya berkomunikasi dan terkadang selalu mempengaruhi tindakannya. Bahkan tidak jarang suara-suara itu datang dari kucingnya, Mr. Whiskers dan anjingnya, Bosco.

The Voices Poster

Untuk membantu Jerry menghilangkan pengaruh suara-suara tersebut dia harus rutin mengunjungi Dr. Warren (Jacki Weaver) guna berkonsultasi dan meminta pengobatan dari pengaruh suara-suara yang muncul tersebut. Adapun Fiona (Gemma Arterton) seorang gadis dari bagian Akuntansi di kantor yang mengubah hidup Jerry untuk selamanya. Apa yang dilakukan Fiona sehingga Jerry yang baik menjadi berubah? Bagaimanakah kelanjutan kehidupan sosial Jerry dengan lingkungan-lingkungannya?

'Hi, Jerry...'

Saya harus mengapresiasi apa yang dihadirkan Marjane Satrapi lewat film The Voices ini. Jika dalam film-film sebelumnya ia menghadirkan sindiran-sindiran sosial politik yang terkesan 'berat' untuk diikuti, dalam film ini Satrapi menghadirkan suasana yang ringan namun tetap mengandung muatan penting untuk diikuti. Jadi jika berbicara tentang kehidupan dan psikis seseorang itu artinya kamu tidak perlu memahaminya dengan bahasa psikologi yang rumit-rumit, karena hal tersebut sangat bisa dijelaskan dengan penggambaran yang sederhana. Secara cerdas Satrapi mampu menggambarkan kepada penonton tentang sosok Jerry yang sebenarnya, perlahan namun pasti Satrapi membuka lapisan-lapisan plot cerita kepada penonton tentang bagaimana Jerry memandang lingkungannya, bagaimana Jerry berinteraksi dengan sekitarnya, bagaimana kehidupan Jerry di masa lalu, dan bagaimana masa lalu Jerry mempengaruhi hidupnya saat ini. Menonton The Voices mengingatkan saya sedikit akan film Psycho (1960), namun dengan nuansa yang berbeda tentu saja, film Psycho menggunakan pendekatan yang sangat gelap tanpa ada unsur komedi sama sekali di dalamnya.

'Hoy!'

Nilai tambah lagi dalam film ini adalah visual yang apik yang digunakan dalam film. Bagaimana dua sudut pandang dalam diri Jerry terkadang diperlihatkan kepada penonton namun tanpa terasa mengganggu plot utama yang sedang berjalan. Juga bagaimana penggambaran masa lalu Jerry yang walaupun dengan mudah saya menerka nya tetap saja adalah hal positif dalam film karena Satrapi mampu menghadirkannya dengan baik. Untuk departemen akting, Satrapi tidak tanggung-tanggung untuk mengikutsertakan beberapa artis top untuk bermain dalam film ini. Adalah sang aktor utama Ryan Reynolds yang tanpa keraguan adalah spotlight dalam film ini. Tidak hanya mampu menghadirkan sosok Jerry, ia juga sangat prima ketika harus berimprovisasi mengisi suara Mr. Whiskers si Kucing, dan Bosco si Anjing. Jangan lupakan juga artis pendukung lain seperti Gemma Arterton, Anna Kendrick, Jacki Weaver hingga Ella Smith, tanpa mereka akting Reynolds yang brilian itu tentu saja akan mentah. 

So, my verdict is... The Voices adalah salah satu film yang patut diberi apresiasi positif tahun ini. Dengan penggambaran visual yang indah, komedi kelam yang satir, akting para karakter yang mumpuni menjadikan film ini layak untuk Kamu saksikan di tahun ini. Jika ada yang kurang dalam film ini adalah tidak adanya twist yang benar-benar baru untuk film dengan genre seperti ini. Bagi saya yang sudah melahap banyak film dengan genre Thriller, film ini tentu terasa amat sangat biasa karena dari awal pun saya sudah dapat menerka kemana arah film ini. Hal yang sama saya rasakan juga saat menonton Stand-up Comedy George Carlin dan film The Voices adalah keduanya sukses membuat saya tertawa getir.

Nilai: 3.5/5.0