(Movie Review) Terminator: Genisys, Membuka Segala Kemungkinan Baru!


Sepertinya akhir-akhir ini Hollywood senang membawa kita bernostalgia dengan film-film yang sejak lama sudah mencapai popularitasnya. Belum sampai rentang 2 bulan saja di tahun ini kita sudah disuguhkan franchise-franchise top macam Mad Max: Fury Road, Jurassic World, dan sekarang ada Terminator: Genisys yang merupakan seri kelima dari franchise Terminator. Jika melihat mundur lagi, kita juga akan menemui film-film lawas yang di reboot oleh Hollywood seperti Star Trek, Robocop, TMNT, dll. Ya, reboot memang semacam menjadi tren yang menurut saya positif. Karena tidak semua orang pernah menonton Mad Max yang pertama dulu, misalnya, dan kalaupun mereka punya kesempatan menonton di tahun 2015, belum tentu mereka menyukai coloring jadul dalam film tersebut… maka caranya ya dengan melakukan reboot. Tapi ada tantangan tersendiri untuk menghidupkan kembali film-film yang dulu sudah pernah mencapai tingkat popularitas tertingginya, tantangannya adalah membuat film-film itu dapat diterima penonton masa kini.

Well, sebenarnya film Terminator: Genisys ini tidak sepenuhnya rombak total seperti peralihan dari Spider-Man 3 ke The Amazing Spider-Man. Dengan apik, pihak produser mampu menawarkan kepada kita sebuah sekuel dari franchise Terminator sebelumnya yang sekaligus juga sebuah reboot. Inilah salah satu untungnya memiliki sebuah cerita yang mengandung unsur time-travel, atau dalam franchise X-Men adalah karakter Wolverine yang tidak bisa menua, sehingga timeline nya bisa dibolak-balik pada masa tertentu.

Terminator: Genisys Poster

Bicara film Terminator seperti yang Saya katakan sebelumnya, memang tidak lepas dari konsep time-travelnya. Konsep yang merujuk pada Teori Relativitas oleh Albert Einstein. Sudah sejak lama Skynet membangun kekuatannya, meluncurkan nuklir yang menyebabkan hari kiamat (Judgement Day), juga membangun Terminator yang bisa berubah wujud menjadi manusia untuk menyamar. Adapun perlawanan umat manusia terhadap Skynet dipimpin oleh seorang John Connor (Jason Clarke), yang pada akhirnya mereka berhasil masuk ke pertahanan terakhir Skynet. Namun, disaat kemenangan sudah dicapai, ditemukan fakta mengejutkan bahwa ternyata Skynet telah mengirimkan sebuah Terminator untuk membunuh Sarah Connor (Emilia Clarke), ibu dari John Connor. Sehingga jika Sarah dibunuh, maka John Connor tidak pernah dilahirkan, dan tidak pernah ada pemberontakan untuk menghancurkan Skynet. Maka diutuslah Kyle Reese (Jai Courtney) ke tahun 1984 untuk melindungi Sarah Connor.

Namun, sebuah twist terjadi karena dalam pengiriman Kyle Reese terjadi pergeseran timeline sehingga mengakibatkan garis waktu yang berbeda-beda. T-800 (Arnold Schwarzenegger) yang tadinya dikira adalah Terminator yang diutus untuk membunuh Sarah, ternyata sebuah Terminator yang diutus untuk melindungi Sarah sejak kecil. Lalu bagaimanakah nasib Kyle Reese, mampukah ia melindungi Sarah Connor? Kemudian mampukan mereka mencegah The Judgment Day sebelum itu terjadi?

'APA LO, APA LO???!!!'

Secara keseluruhan Saya menikmati setiap detik dari naskah yang ditulis Laeta Kalogridis dan Patrick Lussier. Disini, kita akan menyaksikan kembali aksi kakek Arnold Schwarzenegger. Adalah kesenangan tersendiri menonton Terminator: Genisys karena biarpun sang sutradara, Alan Taylor yang sebelumnya menangani film Thor: The Dark World ini banyak menggunakan wajah baru dalam dapartemen casting nya, namun dia mengajak kita tidak henti bernostalgia dengan adegan-adegan a la Terminator pertama dulu… jangan lupakan juga quotes legendaris a la Arnold Schwarzenegger! Saya juga menyukai joke-joke yang dilempar oleh Schwarzenegger terkait pertambahan usianya sebagai Terminator. Apresiasi tinggi lagi saya berikan kepada penulis naskah film ini yang mampu berdiri sendiri tanpa terlalu terikat dengan Terminator terdahulu, artinya kalau Kamu belum menonton atau lupa-lupa ingat tentang film-film sebelumnya Kamu tidak bakal bingung menonton film ini.

Ultron

Departemen cast Genysis diisi ‘orang baru’ untuk saga Terminator. Sebut saja Jai Courtney yang memerankan karakter Kyle Reese yang semakin banyak dikenal setelah dia memerankan tokoh Eric Coulter di saga The Divergent, untuk Sarah Connor kali ini diperankan oleh bintang muda asal Inggris, Emilia Clarke yang telah bermain sejak season awal Game of Thrones, sementara itu sosok John Connor diperankan aktor asal Australia yang juga telah bermain di banyak film Hollywood, Jason Clarke. Biarpun sebenarnya para cast, termasuk sang ikon Terminator, Arnold Schwarzenegger tampil dengan prima di film ini, aktor-aktor di Terminator: Genisys bukan berarti hadir tanpa kekurangan. Saya sangat menyayangkan kurangnya chemistry yang tercipta antara dua karakter ‘manusia’ dalam film ini yaitu antara Kyle Reese dan Sarah Connor atau bahkan antara T-800 dengan Sarah Connor yang adalah nyawa cerita film ini. 

Dari segi aksi yang dihadirkan film ini Saya anggap cukup seru dan Saya begitu senang saat CGI menampilkan Arnold Schwarzenegger dalam usia ‘muda’ biarpun secara keseluruhan film ini masih dibawah serunya seri Terminator: The Judgment Day. Untuk sosok Sarah Connor, banyak yang membandingkan  Emilia Clarke dengan Sarah Connor pertama yang diperankan oleh Linda Hamilton. Beberapa mengatakan bahwa Sarah Connor versi Clarke dirasa kurang greget dibandingkan Sarah Connor versi Hamilton. Well, saya rasa itu memang sengaja diarahkan sang sutradara yang pelan-pelan ingin membangun karakter Sarah Connor dari awal, jadi ya masih sedikit belum greget. Karena kabarnya pihak produser telah menyiapkan 2 sekuel lagi untuk kelanjutan Genisys. Ya, semoga saja film ini sukses secara finansial.

Kakeeeeeek!!!

So my verdict is, Terminator: Genisys adalah twist baru dari franchise Terminator. Itu artinya jika film ini sukses, saya yakin akan dibuat lagi sekuel berikutnya yang mengambil cerita setelah event di Genisys ini. Buat Kamu yang telah mengikuti saga Terminator dari awal, Saya ucapkan selamat kepada Kamu, karena Saya yakin kamu akan menemui banyak hal nostalgic di film ini. Biarpun para aktor yang digunakan adalah aktor yang telah lama berkarir baik di layar lebar maupun TV Series, namun mereka masih terhitung anak baru untuk saga Terminator, maka dari itu saya masih merasakan kurangnya chemistry antar karakter. Untuk plot yang dihadirkan juga Saya masih merasakan masih mengikuti pakem lama film Terminator sebelumnya, tanpa pengembangan berarti. Mungkin hal itu disengaja untuk menjaga fokus cerita dan untuk menyiapkan film ini sebagai awal kemungkinan baru dari kelanjutan saga Terminator itu sendiri. Jika Kamu menginginkan tontonan yang menghibur pada musim panas ini, maka Terminator: Genisys  adalah salah satu pilihan yang tepat, dan jangan lupa ajak anak-anakmu, mereka pasti senang melihat para Terminator beraksi, sama saat pertama Kamu menontonnya dulu bukan?

Nilai: 3.0/5.0 (C+)