(Movie Review) Insidious: Chapter 3 - Kembali ke Awal


Peringatan! Review saya untuk film Insidious: Chapter 3 ini mungkin akan mengandung spoiler, saya sarankan Kamu  untuk tidak membaca sebelum menonton filmnya, karena itu akan mengurangi kenikmatan saat menonton filmnya.

Pada tahun 2010 lalu, penggemar film horor dibuat bahagia dengan hadirnya film horor yang diracik secara apik oleh seorang James Wan. Sutradara James Wan yang sebelumnya menyutradarai film Saw, menggebrak kembali dengan film Insidious yang ia garap berkolaborasi dengan Peli (Wan sebagai sutradara dan Peli bertindak sebagai produser). Awalnya sangat sederhana dan tidak ada ekspektasi terlalu besar akan film ini, Insidious pertama dibuat dengan budget super mini (hanya 1.5 Juta USD) tanpa diduga Insidious sanggup meraih sukses luar biasa di box office dan membangkitkan nama Wan kembali sebagai penggarap film horor bermutu dan menggunakan cara-cara baru dalam menakuti penonton, yang menjadikannya sebagai sutradara film horor nomor satu.

James Wan (Kanan) dan Leigh Whannel (Kiri)

Kesuksesan film Insidious membuat James Wan yang awalnya saya kira adalah mahasiswa lulusan Universitas Bina Nusantara menjadi semakin percaya diri untuk membuat film horor selanjutnya, terbukti pada tahun 2013, ada dua film horor yang disutradarainya tayang di bioskop yaitu, The Conjuring dan Insidious: Chapter 2. Kesuksesan menakuti penonton dan membuat film apik membuat nama James Wan semakin naik daun dan banyak diminta untuk menyutradarai sebuah film, hingga akhirnya James Wan dipilih untuk menyutradarai salah satu franchise populer lainnya yaitu Furious 7. Maka, yang dipercaya untuk menyutradarai, menulis, dan sumber ide di Insidious: Chapter 3 kali ini adalah sahabat dari James Wan sendiri yaitu Leigh Whannel yang juga ikut memerankan tokoh Specs.

Insidious 3 Poster

Insidious: Chapter 3 ini adalah sarana pembuktian seorang Leigh Whannel sebagai seorang sutradara. Berbeda dengan kedua film sebelumnya. Insidious 3 mengambil waktu sebelum teror keluarga Lambert. Saya lebih senang menyebut film Insidious ini sebagai Origin of Elise. Quinn Brenner (Stefanie Scott) seorang gadis remaja mendatangi seorang cenayang bernama Elise Rainier (Lin Shaye). Tujuan Quinn mendatangi Elise adalah agar ia bisa berkomunikasi dengan ibunya yang sudah meninggal, karena ia merasakan sesuatu akhir-akhir ini dalam hidupnya, seakan sang ibu yang baru meninggal akibat kanker ingin berkomunikasi dengannya. Namun, Elise sebenarnya memiliki trauma masa lalu saat berhubungan dengan dunia ‘lain’ tersebut. Sehingga ia memutuskan untuk berhenti menjadi cenayang dan menyarankan Quinn berhenti untuk berusaha berhubungan dengan ibunya yang telah meninggal, karena itu mungkin akan membahayakan dirinya. 

Semenjak kedatangan Quinn ke rumahnya tersebut, Elise seakan dihantui oleh perasaan tidak nyaman yang berhubungan dengan kehidupan Quinn Brenner. Elise merasa ada sesuatu yang mengancam kehidupan Quinn Brenner. Maka, ia merasa harus menyelamatkan nyawa gadis tersebut sebelum bahaya tersebut semakin besar. Apakah sebenarnya yang mengancam nyawa Quinn Brenner? Mampukah Elise menyelesaikan permasalahan yang dihadapi Quinn Brenner?

Kok gelap ya?

Saya sangat mengapresiasi karya Leigh Whannel dalam Insidious 3 ini, dengan apik ia mampu membuat origin yang pas dan tidak terlalu berlebihan dalam arti plot nya tidak terlalu bercabang dan memuaskan penonton yang juga telah menonton kedua film Insidious sebelumnya. Pada paruh pertama film, Leigh Whannel masih memainkan  tempo yang datar sehingga cukup membuat bosan penonton. Namun, belum sempat tertidur, hype penonton bioskop mulai dinaikan pada paruh kedua film ini dengan teror-teror yang hadir melalui seorang ‘pria yang tidak bisa bernapas’. Teror masih berlanjut dan menghentak dengan hadirnya teror yang terus menerus hadir kepada karakter Quinn Brenner. Sehingga kadang saya merasa kasihan sendiri kepada adik ini. Seperti film-film Insidious sebelumnya, maka cerita Insidious akan memasuki fase cenayang-cenayangan setelah teror-teror tadi. 

Emmmh... balas apa ya?

Adalah Dermot Mulroney yang kali ini diberi peran mirip dengan peran Josh Lambert pada film Insidious sebelumnya, yaitu ayah dari Quinn Brenner. Namun yang saya sayangkan disini adalah Leigh Whannel kurang memberikan porsi yang cukup penting untuk sosok Sean Brenner. Entahlah, mungkin Whannel mencoba hanya fokus kepada teror yang dihadapi oleh Quinn Brenner. Sementara itu, untuk peran Quinn Brenner yang dilakoni oleh Stefanie Scott saya sangat acungi jempol. Karena dia mampu tampil dengan total sebagai gadis biasa namun tidak terlalu berlebihan dengan menampilkan sosok yang minta dikasihani. Walaupun karirnya tidak sementereng gadis remaja lain seusianya seperti Chloe Grace Moretz, Stefanie Scott tampil sangat apik di film ini, saya menantikan film-film dia selanjutnya. Untuk duo Tucker dan Specs yang masing-masing diperankan oleh Angus Sampson dan Leigh Whannel saya rasa tidak ada yang perlu dikomentari karena mereka sudah sangat paham akan karakter yang harus dilakoni, setiap kemunculan mereka akan menjadi penurun tensi dan tidak pernah gagal dalam memancing tawa penonton di bioskop.

Eeeh, apaan tuh?

Banyak hal yang membuat saya mencintai seri Insidious dari pertama sampai yang ketiga ini, karena bagi saya film horor modern tidak hanya dituntun untuk menghadirkan kengerian dalam setiap terornya, namun juga bagaimana sebuah film horor harus mampu menghadirkan jalinan cerita yang kuat. Untuk itu Insidious 3 ini berhasil dalam membuat jalinan cerita yang menguatkan film Insidious pertama. Insidious 3 menjadi pondasi yang kuat bagaimana hubungan Elise dengan setan-setan yang ada di dua film Insidious sebelumnya dimulai, juga menjadi origin yang apik bagaimana Elise-Tucker-Specs memulai karir mereka dalam memburu hantu. Namun, Insidious 3 bukan berarti tanpa kekurangan. Sebagai film ketiga dari sebuah franchise horor yang besar, Insidious 3 tidak terlalu baru dalam teknik maupun plot cerita, sehingga kita bisa tahu akan dibawa kemana alur cerita setelah tiap scene berlalu. Saya sangat menyayangkan hal ini, film ini seakan repetitif dari film horor James Wan setelah Insidious pertama. Penurunan kualitas juga saya rasakan di departemen musik yang ditangani oleh Joseph Bishara. Saya masih ingat betul bagaimana musik yang dihadirkan Joseph Bishara di film Insidious pertama dan The Conjuring benar-benar memberikan ketegangan sepanjang film. Di seri ini juga saya tidak terlalu menemukan scene yang memorable seperti ‘the clap clap game’ di film The Conjuring. Walaupun begitu, film ini masih banyak kok jump scare nya di beberapa scene.

So, my verdict is… Kalau Kamu adalah penonton setia Insidious dari tahun 2010 dan juga penggemar film horor, Insidious: Chapter 3 sangat sayang untuk Kamu lewatkan. Tontonlah film ini di bioskop, dan jangan pernah menonton trailer sebelum menyaksikan film nya, karena ada beberapa scene penting yang ternyata sudah di tease di beberapa trailernya. Saya sendiri masih akan memberikan rekomendasi tinggi untuk film ini kepada Kamu karena Whannel sukses membangun origin yang apik dengan pondasi cerita yang sangat kuat untuk seri Insidious lainnya. Menonton Insidious: Chapter 3 akan membuat Kamu makin mencintai seri Insidious. Saya akan memberi nilai 3.75 dari 5.00 untuk Insidious: Chapter 3 faktor ini dipengaruhi apakah Kamu sudah pernah menonton trailer sebelumnya atau tidak. Semakin sedikit cari tahu, semakin bagus film ini.

NB: Ada Darth Maul (Star Wars) di akhir film. Ehe. Ehe. :p