Begal


Beberapa jam sebelum memulai pekerjaan hari ini,  enam sekawan masing-masing Hendri, Ogah, Ahmad, Sofyan, Novan, dan Celeng berkumpul di dekat rumah Sofyan yang berada tepat di depan lapangan futsal Desa Sidomulya. Rapat khusus kali ini dipimpin langsung oleh Hendri yang pada misi kali ini didaulat sebagai pemimpin teman-temannya karena misi kali ini berasal dari buah pikirannya. Rapat digelar pada Senin malam, 23 Februari 2015. Target mereka adalah pengendara motor yang melintas di Jalan Raya Sidumulya, Lampung Selatan.

Selasa, 24 Februari 2015, sekitar pukul 01.00 dinihari, enam pelaku yang berboncengan mulai bergerak. Celeng memboceng Hendri, Ogah dan Novan, serta Ahmad dan Sofyan. Masing-masing mengendarai motor Yamaha RX-King. Mereka menghadang pengendara motor yang berkendara dari arah Tanjungkarang, Bandar Lampung. Saat menghadang korban, mereka berbagi tugas ada yang menjaga di depan, di belakang dan eksekutor. Hendri, yang membawa samurai, bertindak sebagai eksekutor perampasan pada misi kali ini. Hendri yang dibonceng Celeng dan memegang samurai, berhasil mengayunkan samurai ke bagian leher pengendara motor tersebut  sehingga menyebabkan si pengendara jatuh tanpa ampun.

***

“Sejumlah pengusaha mengaku cemas dengan meningkatnya angka kriminalitas pembegalan di Lampung. Aparat kepolisian diharapkan memberi jaminan keamanan untuk aktivitas perekonomian mulai dari hulu ke hilir, termasuk distribusi yang menjadi titik penting arus barang dan jasa.”

‘Hah!’

Minggu-minggu ini hampir seluruh pemberitaan lokal sampai nasional dipenuhi oleh berita-berita tentang aksi begal yang makin merajalela di Provinsi Lampung. Termasuk salah satu headline di media cetak pada Sabtu, 21 Februari 2015 yang saat  ini sedang berada di tangan Hendri, salah seorang warga Sidomulya, Lampung Selatan. Hendri adalah seorang bapak dari kedua anaknya yang masing-masing adalah Mamat yang saat ini bersekolah di bangku SMP kelas 9 dan Robi, kakaknya yang sudah berada di kelas 11 SMA. Serta seorang istri yang setia namun pemarah apalagi kalau persediaan gas dirumah sudah habis, bernama Siti Agustin.

Hendri adalah seorang yang biasa-biasa saja, dengan kemampuan bersosialisasi nya yang cukup baik ia memiliki banyak teman di sekitar tempat tinggalnya. Kegiatan yang dilakukan sebagaimana warga yang tidak memiliki pekerjaan  adalah kadang duduk-duduk sampai larut malam sambil minum bir murah dan bermain judi kecil-kecilan mengingat uang yang mereka punya pun tidak banyak.

‘Woy, Celeng! Lu ngeliat koran pagi ini gak?’

‘Gak usah sok pinter lu baca-baca koran!’

‘Gua baca dong!’ Novan bergumam sambil melihat kartu yang dia punya.

‘Iya gua juga’ Ahmad dan Sofyan menambahkan secara hampir bersamaan.

‘Nah tuh! Kayanya kita makin terkenal dan ditakuti nih sama orang-orang!

‘Wah bagus dong, orang gak perlu tau siapa kita, tapi kalo ada orang yang ganggu kita, habisin aja langsung… Aaaah anjing!!! Kalah gua.’

‘Pernah gak sih lo tapi ngerasa kasian sama orang-orang yang kita habisin, Ndri?’

‘Ah, taik! Emang mereka mikirin kita, keluarga kita, Mad? Terus nih ya, kalo kita misalnya buat kerja yang bener di Kota kayak jual rokok ujung-ujungnya juga kita digusur sama Pemerintah Daerah dengan alasan mengganggu keindahan kota tanpa dikasih solusi gitu abis digusur mau diapain… masih enak kalo digusur baik-baik, nah ini sambil dimarahin pula, sama Bupati yang galak.’

‘Ah omongan lu kayak orang pinter. Tapi bener sih.’

Kekalahan dua kali beruntun Celeng menutup malam itu. 

Pukul 22.30 dengan langkah yang tidak seimbang karena pikiran sedikit bercampur alkohol, Hendri pulang kerumah. Disusul Robi anak tertuanya yang sampai 15 menit setelah Hendri.

‘Woy darimana aja lu anak nakal!?’

‘Main. Lah, Bapak sendiri darimana aja? Pulang-pulang keadaannya gini?’

‘Eeeeh kurang ajar lu sama Bapak sendiri, gak mikir lu gua susah berkorban banyak buat elu sekolah!’

‘Emang bapak dah ngasih apa? Robi harus sekolah 5KM dengan berjalan kaki karena dari dulu gua mau minta motor gak pernah Bapak kasih dengan alasan nggak punya cukup uang. Tapi apa nyatanya kerjaan Bapak malah jual-jualin tuh motor orang yang gatau darimana asalnya terus uangnya dipake mabuk dan judi!’

Suara tampar dan tangis pecah dalam keluarga Hendri malam itu, Siti dan Mamat yang menyaksikan semuanya hanya bisa menangis dan memeluk Robi.

***

‘Gua punya misi baru buat kita…’

‘Kapan berangkat?’

‘Besok, tempat biasa.’

***

Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup (kecuali tumbuhan) yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Susunan Darah terdiri dari 91% Air, 8% Protein, 0.9% Mineral dan sisanya Garam.

Darah segar mengalir deras dan setelah sekian lama aliran tersebut melambat. Warnanya merah dan sedikit gelap bercampur dengan malam dan juga warna aspal. Seseorang biasanya akan mengerenyitkan kening berurusan dengan darah, namun tidak bagi Hendri dan komplotannya yang terbiasa membuat darah tersebut memancar dari tubuh korban-korban mereka. Rampasan besar malam itu mengingat jaringan kali ini adalah Yamaha Vixion keluaran baru, dan sungguh kesialan yang tidak akan pernah diduga oleh si pengendara motor itu saat dia harus melewati daerah tersebut.

Disingkirkan tubuh yang mengganggu itu. Pria malang pikir Hendri sambil dengan malas membuang helm dan diam-diam mengenali setiap detil kecil tubuh si korban. Alis yang sedikit naik namun tidak terlalu tebal, mata yang tidak agak besar, bibir pucat yang tebal, dan kulit wajah yang agak gelap… Hendri tentu sangat mengenali detil tersebut milik Robi anak sulungnya.

‘Pak… aku kadang suka ngerasa capek, aku iri deh liat temen-temen yang bisa pake motor kayak Yamaha Vixion gitu, terlihat keren.’