Sebuah Cerita dari Seorang Penulis

Seorang penulis memang bagaikan Tuhan.

Sumber Gambar

Pagi itu, minggu kedua di Bulan Maret saya sedang menikmati secangkir kopi yang mulai mendingin karena kadangkala kopi yang pekat dan tidak manis namun cantik itu saya alihkan perhatiannya kepada baris-baris tulisan dalam buku kumpulan cerpen yang sedang saya baca. Kumpulan Cerpen Tahun 2013 dari salah satu media besar di Indonesia. Saya sempat berhenti sejenak dan menghela napas sesaat setelah membaca cerpen dari penulis yang bernama Guntur Alam dengan judul Malam Hujan Bulan Desember. Bagaimana tidak, di dalam ceritanya tersebut Guntur Alam mengambil sudut pandang cerita dari seseorang yang sudah mati. Selesai membaca cerita pendek tersebut dahi saya berkerut sambil berkata '...aah!'. Ya sensasi semacam orgasme yang selalu saya harapkan setiap kali selesai membaca sebuah cerita baik dalam bentuk novel maupun cerita pendek seperti ini. Ungkapan puas dari seorang pembaca terhadap penulis.

Penulis memang selalu saya anggap sebagai Tuhan. Bagaimana tidak, dengan kalimat-kalimatnya yang terkonstruksi dengan baik, seorang penulis bahkan bisa menghidupkan, mematikan, menghidupkan, dan mematikan lagi seorang tokoh dalam cerita. Bahkan kalau tulisannya bagus dia bisa membuat hal-hal yang tidak masuk akal bisa diterima bahkan dengan akal sakit sekalipun.

Saya selalu bercita-cita menjadi penulis. Penulis mungkin salah satu impian kecil saya yang terus tersimpan rapi di dalam hati. Entahlah, waktu kecil saya dicekoki komik-komik oleh orangtua saya, saya bercita-cita menjadi seorang pembuat komik waktu kecil. Namun, makin dewasa saya sadar kalau saya tidak bisa menggambar dengan baik. Saya suka menonton film dan bercita-cita menjadi pembuat film, namun saya sadar proses menjadi seorang film sangatlah panjang. Akhirnya, satu-satunya hal yang menurut saya paling mudah dilakukan adalah dengan belajar menulis dan membuat cerita saya sendiri.

Tapi ternyata menjadi penulis pun tidak mudah-mudah banget. Kalo ada satu cerita yang ingin saya tulis mungkin adalah kisah pertemuan saya dengan seorang wanita bernama Mira pada sebuah kesempatan yang diselenggarakan oleh kampus. Saya, Robi, Wawan, Sofa, dan Mira adalah teman sekelompok yang belum pernah mengenal satu dengan lainnya, kami dipertemukan pada kesemnpatan itu. Kesempatan yang mengharuskan kami semua berada dalam satu kelompok dan memecahkan permasalahan bersama dan membangun daerah yang kami tempati. Ah, indah betul konsepnya. Hari-hari kami jalani dengan malas, sejujurnya saya adalah tipe orang yang malas untuk mengenal dan bertemu dengan orang baru, tapi kupikir tidak ada salahnya juga sih mencoba saling mengenal, toh kami disini akan sama-sama saling membutuhkan. Hari-hari pun kami jalani, malam-malam kami lalui, siang-siang kami kadang kami skip dengan tidur malas mengingat tempat yang kami tinggali selalu membuat saya kepanasan. Mira, adalah seorang gadis biasa yang ceria. Entah sejak kapan kami sering ngobrol bersama hingga akhirnya cukup dekat dan sering bertukar cerita dan keluhan mengenai pasangan masing-masing. Ah, kenapa jadi klise gini. Saya seakan sedang berada diawal sebuah cerita TV seri yang penuh drama dan intrik perselingkuhan. Tanpa mikir macam-macam hari pun terus berlanjut tanpa ada apa-apa tanpa saya merasa apa-apa ke Mira.

Mira tetaplah perempuan biasa-biasa saja bagi saya. Tapi, entah kenapa saya seakan membutuhkannya, melebihi saya membutuhkan Robi, Wawan, atau Sofa. Setiap malam, sehabis menghabiskan waktu berlima kadang saya dan Mira masih terus bercanda dan mencoba saling mengganggu waktu untuk menghubungi pasangan masing-masing, bahkan sebelum tidur di kamar masing-masing kadang kami masih sempat saling menghubungi melalui telepon seluler masing-masing.

Minggu-minggu kami jalani dan tidak terasa semakin dekat dengan hari kepulangan kami. Dalam benak saya saat itu muncul berbagai macam pertanyaan tentang apa yang sedang saya rasakan, Mira tetaplah perempuan yang biasa-biasa bagi saya. Tapi, saat ini mulai ada sedikit rasa tidak suka saat melihat dia selesai menghubungi pasangannya disana, 'Akupun begitu kepada Kamu.' kata Mira sambil melihat mata saya kemudian menundukan wajahnya saat saya bilang hal tersebut kepadanya. Malam berganti pagi dan tidak terima pada konsep waktu, kami ingin menikmati momen yang kami punya disini untuk sekedar berbicara berdua di waktu yang kami miliki disini.

'Apa kita ini?'

'Entahlah, terus kenapa kita disini berdua saja?'

'Aku nggak tahu, yang jelas aku ingin kamu yang nemenin aku.'

'Kayaknya aku butuh kamu deh, ngga tau kenapa, padahal kita sama-sama tau disana ada perasaan yang harus dijaga.' 

'Nah itu tau kamu. Tapi, kok kemarin ngajak selfie bareng? Hehehehe...'

'Maaf... Kamu nggak suka ya?'

'Suka kok.' Kata Mira sambil mendekatkan dirinya dan mencium hangat diri saya.

Berulang kali saya mencoba menolak perasaan ini tapi entah kenapa berulang kali juga perasaan itu tumbuh dan mengakar semakin kuat di dalam diri saya. Bahkan setelah kami berdua sama-sama pulang dan kembali ke pelukan pasangan masing-masing. Entahlah, saya selalu memikirkan Mira, saya selalu memikirkan harum tubuhnya dan bibirnya yang mencium lembut bibir saya saat itu. Saya tidak tahu apakah harus menyimpan rahasia ini kepada pasangan saya atau jujur dan menceritakannya. Kalau saya jujur menceritakannya mungkin dia akan membunuh saya dan membiarkan mayat saya membusuk di dalam lemari. Betul saja, saat itu dia langsung menjerat saya kuat sekali dari belakang dengan tali gesper yang ia kenakan. Entah kenapa saat itu saya tidak bisa melawan, kuat sekali sampai kepala saya mendongak kebelakang melihat wajah pasangan saya yang penuh amarah namun sedikit bercampur dengan kesedihan, saya tahu itu. Menjelang kematian, saya ingat betul saya berkata 'maaf' dengan air mata yang tidak sempat menetes.