Obrolan Tanpa Agenda

Source

'Aku pengin ngobrol sama Kamu, iya hanya sekedar ngobrol. Obrolan tanpa agenda.'

Malam itu, Hari Sabtu, minggu ketiga di bulan Maret aku sedang berada di sebuah cafe yang letaknya tidak begitu jauh dari rumahku. Entah apa yang membawaku saat itu, aku tidak begitu ingat, antara motivasi yang kuat untuk mendownload film HD berukuran 2.5 GB atau hanya sekedar ingin menyendiri untuk melanjutkan beberapa cerita yang kemudian akan aku post ke blog pribadiku. Malam belum terlalu larut saat itu, waktu baru menunjukkan pukul 21. Ditengah keramaian cafe mataku tertuju kepada, Maya, teman satu kampus di Fakultas Psikologi dulu. Aku sempat ragu untuk memanggilnya karena aku pernah dalam beberapa kesempatan salah mengenali orang dan berujung pada rasa malu yang tidak tertahankan.

'Hoy! Ngapain?' sambil memutar badan dan menyelesaikan minumannya, Maya ternyata menegur diriku lebih dulu.

'Oooh... emang benar orang itu.' pikirku dalam hati.

'Kok bengong?'

'Eh maap, aku sempat ragu kalo tadi yang lagi duduk itu kamu.' 

'Lagi ngapain? Lagi sibuk ya? Yaudah gapapa lanjut aja.'

'Emmm... oke deh.'

Maya adalah seorang teman yang saat kuliah dulu selalu terlihat ceria, dan yang kutahu dari semester awal dia berpacaran dengan seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran. Waktu masih menunjukan pukul 21.30 saat aku melihat sekeliling, saat itu juga aku melihat sepasang kekasih yang telah ada sejak pertama kali aku datang ke cafe tersebut. Dari kerutan wajahnya kurasa mereka masihlah duduk di semester-semester awal, atau paling tidak si wanita setahun atau mungkin dua tahun lebih tua dari si pria, artinya dalam hal ini si perempuan berpacaran dengan adik tingkatnya sendiri. Kenapa aku tahu? Bukan, aku bukanlah seorang cenayang yang senang bermain-main untuk mengetahui kepribadian sesorang atau melihat jauh kedepan tentang hidup sesorang. Semuanya terbersit begitu saja saat aku melihat sesorang, semua dugaanku tersebut sangat mungkin meleset jauh dari hal yang sebenarnya.

Melihat pasangan tadi mengingatkan aku pada masa-masa dulu, dimana aku dengan buta mencintai sesorang yang lebih dewasa dari aku. Itu pula alasanku menebak-nebak tadi, karena aku seakan melihat diriku 4 tahun yang kebelakang, dimana sebuah hubungan kadang dijalani tanpa beban, dimana yang diinginkan hanyalah waktu bertemu saat perkuliahan berakhir. Dimana kadang mempertahankan hubungan lebih penting daripada mempertahankan IPK. Dimana kadang aku dan kamu tetap dijalani meski sama-sama tahu hubungan berjalan tanpa restu. Ya, semua itu aku dan dia lalui selama kurang lebih 3 tahun. 3 tahun yang jika aku ingat lagi seakan tiada artinya, hilang bersama hal-hal lain, dan hanya melebur menjadi senyuman kecil saat mengingatnya.

'Heh, ngapain sih serius banget?'

'Umm... oh gapapa.'
 
'Aku liatin kamu kayak serius banget gitu ngetik di laptop, terus suatu waktu kamu bengong bentar sambil ngeliatin orang, terus kadang senyum-senyum kecil sendiri gitu. Lagi nulis cerita jorok ya?'
 
'Eeeh... enggak kok, duh. Hahahaha kampret. Eh, eh gini deh, aku pengin ngobrol sama Kamu, iya hanya sekedar ngobrol. Obrolan tanpa agenda.'
 
'Apaan tuh obrolan tanpa agenda?'

'Yah pokoknya cuma suatu cara untuk ngabisin waktu aja sih sebenarnya.'

'Ooooh gitu. Yaudah deh. Lagian kayaknya orang yang aku tunggu-tunggu nggak dateng deh.'

'Iya, aku tau kok.'

'Loh, kamu cenayang ya?'

'Enggak kok, aku liat kamu dari tadi sambil minum kopi itu kamu membaca sebuah buku. Itu artinya kamu mencoba membatasi diri kamu dari dunia luar atau dalam hal ini dari orang-orang yang pengin ngajak kamu ngobrol. Kenapa? Karena ada seseorang yang kamu tunggu.'

'Tapi kan bisa aja aku memang pengin menyendiri di cafe kayak kamu untuk membaca buku.'

'Wanita dengan karir seperti kamu aku yakin nggak punya cukup waktu untuk duduk-duduk lama di cafe sambil baca buku. Kalaupun ada, mungkin akan kamu habiskan dirumah. Itu artinya kamu pergi ke cafe untuk bertemu seseorang yang mungkin aja sudah kamu kenal, tapi baru bertemu secara personal untuk malam ini. Teman kantor, mungkin?'

'Kamu cenayang.'

'Ah, nggak kok. Aku cuma seseorang yang senang menulis dan di sela-sela menulis aku senang mengamati orang.'


Mengobrol adalah hal kedua yang mungkin aku senang lakukan selain menulis, karena disaat mengobrol dengan seseorang aku seakan menemukan hal-hal luar biasa yang tidak pernah kuduga sebelumnya. Misalnya, saat mengobrol dengan seorang kakek tua yang ternyata pengoleksi batu akik aku jadi tahu bahwa entah mitos atau bukan, ada sebuah batu yang konon katanya biarpun telah disinari oleh senter/laser tidak terlihat.

'Lah itu sih sama aja nggak pake batu cincin ya, Pak?' kataku saat itu.

'Ya beda... itu namanya ada yang tiada. Kalo Kamu belajar filsafat gitu pasti ngerti'.

'Ooooh...' kataku bingung.

Dan banyak sekali hal-hal yang bisa kudapatkan sehingga sampai sekarang aku senang bila bertemu orang baru dan mengobrol. Sebentuk apapun obrolan itu, bahkan jika obrolan itu tidak ada maksud apapun atau dalam hal ini aku senang menyebutnya sebagai obrolan tanpa agenda. Obrolan tanpa agenda membawaku mengobrol di cafe pada Sabtu malam itu sampai larut sekali, aku dan Maya saling bercerita dan tidak jarang berkeluh mengenai kelakuan orang terdekat kami. Bagaimana Maya kesal dengan orang yang ditunggunya tadi, dan bagaimana aku pernah begitu bodohnya mencintai seseorang dan kadang berharap menanti hati yang telah terisi untuk mampu memberi status pasti.

Obrolan tanpa agenda adalah sebuah obrolan yang tidak bertujuan apa-apa. Di sela-sela rutinitasku, aku adalah orang yang senang bermain game. Salah satu game yang kusuka adalah The Sims, dan salah satu hal yang aku sering lakukan adalah 'WooHoo' dengan Sims wanita. Sebelum dapat bercinta dengan Sims wanita tadi maka karakterku tersebut haruslah melakukan percakapan basa-basi dengan tujuan atau harapan dapat tidur dengan Sims wanita tadi, nah, itu artinya karakter Sims-ku tadi memiliki agenda, yaitu bercinta dengan Sims wanita. Obrolan tanpa agenda tidak ada maksud apa-apa, hanya ingin sekedar bercakap dan bertukar cerita, bukan juga sebuah obrolan a la PDKT dimana obrolan dilakukan dengan menjaga image masing-masing.

Obrolan tanpa agenda yang aku dan Maya lakukan terus kami lakukan, disaat dimana kami hanya dapat duduk berdua tanpa dapat melakukan apa-apa selain mengobrol, tepat di depan rumah yang kami bangun berdua, menyaksikan anak dan cucu kami saling bercanda, tertawa, dan menikmati dunia.

Obrolan itu juga tetap aku lakukan saat aku duduk sendiri tepat di depan makam istriku, Maya. Sambil tersenyum kecil mengingat awal malam itu sambil berharap dia juga tersenyum disana.