(Movie Review) Dawn of the Planet of the Apes


Dawn of the Planet of the Apes adalah sekuel dari film saga kera sebelumnya yaitu Rise of the Planet of the Apes. Pada awal diumumkannya proyek ini, banyak orang yang tidak begitu antusias menyambutnya, termasuk saya, sama sekali tidak peduli dengan re-re-make film kera ini. Bagaimana tidak, film yang sebelumnya pernah juga diremake oleh sutradara ternama Tim Burton pada 2001 lalu sama sekali jauh dari harapan. Tapi setelah selesai menonton film Rise of the Planet of the Apes pada tahun 2011 saya begitu terpuaskan dengan reboot yang dibuat, dan langsung menantikan sekuel dari saga dunia kera selanjutnya, perasaan yang sama ketika selesai menyaksikan Batman Begins lalu. Bagaimana nasib sekuel Rise of the Planet of the Apes apakah mampu menyamai atau bahkan melebihi prekuelnya?

Kembali ke tahun 2011. Saat itu, Will Rodman (James Franco) seorang ilmuwan hampir menemukan sebuah obat untuk menyembuhkan Alzheimer. Obat yang tersebut dia namakan ALZ-112 ini merupakan obat yang berguna mereparasi sel-sel otak yang rusak sekaligus menumbuhkan sel-sel otak yang baru. Penemuan obat tersebut kemudian dilakukan kepada seekor kera bernama Bright Eyes yang sayangnya percobaan tersebut gagal… namun tanpa diduga percobaan tersebut ternyata lebih sukses kepada anak dari Bright Eyes yang bernama Caesar. Namun percobaan di laboratorium tidak berlangsung mulus sehingga terjadilah tragedi yang membuat Will diharuskan untuk menghentikan percobaannya dan Will pun membawa serta peralatannya dan Caesar kerumah. Hari demi hari dilalui dan Caesar ternyata menunjukkan tanda-tanda kecerdasan yang melebihi kera biasa (kera yang hampir memiliki segala yang dimiliki manusia). Hingga suatu hari terjadilah tragedi yang menyebabkan Caesar harus dikarantina di semacam tempat yang tidak lain adalah penjara bagi para kera, disini Caesar dan kera-kera lainnya mengalami penyiksaan yang tidak hewani(?). Will tidak bisa berbuat apa-apa kepada Caesar, walaupun terlihat sekali Will begitu mencintai Caesar. Hingga pada akhirnya Caesar yang telah semakin cerdas mencuri obat ALZ-112 di rumah Will dan menyuntikannya kepada kera-kera lainnya yang ada ditempat karantina tersebut, sehingga jadilah Caesar pemimpin sekumpulan kera yang memiliki kecerdasan dan kemampuan diatas kera biasa ini.

Dawn of the Planet of the Apes Poster

Sepuluh tahun berselang setelah kejadian dalam film Rise of the Planet of the Apes. Kini semua manusia di bumi diserang kepanikan dan mendekati kepunahan akibat virus yang dikenal dengan nama Simian Flu, atau yang sebelumnya dikenal sebagai ALZ-112 dan ALZ-113, tidak lain adalah retrovirus artifisial yang diciptakan dan dirancang oleh Will Rodman di film pertama untuk menyembuhkan penyakit Alzheimer. Virus pertama yang dikembangkan terbukti sukses dengan subjek tes kera dan mampu meningkatkan kecerdasan mereka, serta berhasil menyembuhkan sementara ayah Will sendiri. Dalam rangka untuk membuat efek permanen pada manusia, dibuatlah virus kedua, yang sifatnya lebih kuat dan menular yang sayangnya terbukti fatal bagi manusia, yang mengarah kepada kepunahan global umat manusia. Hanya beberapa manusia saja yang bersisa dan kelompok manusia dalam film ini diwakili oleh Malcolm (Jason Clarke) yang bertahan bersama keluarganya. Dreyfus yang diperankan oleh Gary Oldman tampil pula sebagai pemimpin manusia yang tetap tinggal di kamp pertahanan manusia di San Fransisco. Sementara itu, peran kera kali ini masih didominasi oleh kera yang dulunya tampil di film Rise of the Planet of the Apes, Caesar (Andy Serkis) sebagai pemimpin komunitas kera yang terletak di Muir Woods. Kelompok ini termasuk kawan-kawan lama yang dulu dibawa dari tempat karantina (terutama Rocket dan Maurice) serta Koba (Toby Kebbel), primata yang sebelumnya adalah obyek eksperimen di GenISys yang telah mengalami penyiksaan berat dari manusia. Juga Blue Eyes, anak dari Caesar.

Begitu banyak pesan moral yang ingin disampaikan dalam film ini yang membuat Saya terkejut dan terenyuh secara bersamaan dimana film ini menunjukan bahwa sebenarnya kera-kera disini (walaupun telah disuntikan semacam obat, yang tentunya kera tersebut dapat dikatakan sebagai seekor kera mutan) ternyata bukanlah kera yang agresif dan menyerang siapapun yang dilihatnya. Bahkan justru dengan kemampuan yang diberikan oleh obat ALZ-112 para kera justru menjadi lebih rasional dan pemaaf (sindiran kepada manusia zaman sekarang?). Telah lama para kera dikurung dan disiksa serta diperlakukan secara kejam oleh manusia, sekarang yang mereka inginkan hanyalah kebebasan dan membangun keluarga mereka dan peradaban kera secara tenang tanpa gangguan. Yup! Perdamaian memang mahal harganya, begitupun perdamaian antara manusia dan kera dalam film ini, karena suatu hal perdamaian tersebut harus terusik? Siapa yang harus disalahkan? Bagaimana nasib kera dan manusia pada akhirnya?

We're Human!

Aktor sebenarnya dalam film ini bagi Saya bukanlah Jason Clarke, Gary Oldman, atau aktor yang memerankan akting sebagai manusia lain, bintang sesungguhnya adalah Andy Serkis yang memerankan karakter Caesar. Karakter digital Caesar yang tidak lain adalah seekor kera mampu menyampaikan begitu banyak emosi kepada penonton ketimbang peran manusia yang tampil dalam film ini. Peran para kera dalam film ini edan gila! Melihat bagaimana sang sutradara mampu memanusiakan kera-kera dalam film ini, bahkan ekspresi para kera jauh lebih mantap daripada melihat ekspresi Kristen Stewart di Twilight Saga.

Andy Serkis as Caesar!

Sutradara Matt Reeves yang cukup sukses dengan film Let Me In tahu benar bagaimana harus membangun tensi dan membangkitkan emosi penonton dengan memaksimalkan setiap peran (baik kera maupun manusia) didalam film ini.  Pacing yang dibangun dalam film ini juga sangat bagus. Dari awal hingga akhir hampir tidak ada adegan yang tersia-siakan. Setiap adegan di sini berfungsi untuk memajukan cerita atau menjelaskan latar belakang di dunia ini. Sama seperti Wyatt (sutradara dalam film Rise of the Planet of the Apes lalu) Reeves juga piawai mengubah suasana dalam cerita. Di sepertiga awal film ini bersifat sebagai drama yang membangun hubungan antara kera dan manusia yang diwakili oleh Malcolm, dkk, sepertiga kedua film ini selanjutnya adalah hal-hal dimana ketegangan dimulai dimana disinilh muncul benih-benih konflik yang siap meledak, sementara sepertiga akhir merupakan puncak tensi dalam film ini semacam kulminasi dari apa yang ditampilkan sebelumnya, tetap dengan diselingi drama-drama yang menurut Saya ditampilkan untuk membangun jembatan kepada film ketiga dari saga para kera.

Ngopi, Yuk!
Dawn of the Planet of the Apes adalah sebuah film musim panas yang harus Kamu tonton apalagi kalau Kamu sudah pernah menyaksikan film pertamanya. Film ini menunjukan bahwa terkadang sebuah konflik yang besar dapat terjadi hanya karena sebuah tindakan kecil . Selain mengajarkan banyak pesan moral kepada penontonnya, secara tidak langsung film ini juga mengajak kita berpikir jauh bahwa terkadang sebuah hal yang telah terjadi bukan masalah siapa yang benar atau siapa yang salah namun lebih jauh bagaimana kita mampu mengkomunikasikan hal tersebut untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Yup, Dawn of the Planet of the Apes bukanlah sebuah film tentang manusia yang bertahan hidup seperti misalnya dalam film-film zombie apocalypse ini adalah sebuah cerita tentang bagaimana seharusnya manusia dapat berpikir secara rasional dengan segala kelebihannya dan mampu menciptakan perdamaian antar manusia, dan hal tersebut tersampaikan sangat baik dengan sindiran melalui kehidupan kera dalam film Dawn of the Planet of the Apes. Selamat, Matt Reeves!