4 Tersangka 1 Korban

Sebelum berangkat sekolah seperti biasa Badu lewat didepan sebuah rumah indah yang dihuni oleh seorang wanita muda yang diketahuinya adalah anak seorang pejabat yang lebih sering tinggal sendiri karena kedua orang tua nya tinggal di daerah lain. Yup, rumah yang tidak terlalu besar namun mewah yang biasanya sepi itu tiba-tiba siang ini ramai oleh kerumunan orang. Ada yang bingung sama seperti Badu, ada juga yang sibuk mondar-mandir ke sebuah mobil berwarna putih-biru bertuliskan "POLISI".

'...ADA YANG MENINGGAL!'


Begitulah salah satu kalimat yang berhasil ditangkap Badu. Siapa lagi, pikir Badu kalau bukan wanita muda yang tinggal disitu yang meninggal, beberapa polisi terlihat sibuk meminta keterangan dari tetangga sekitar rumah korban, dan ada juga polisi yang memotret daerah sekitar tempat kejadian. Esoknya, berita di halaman depan semua surat kabar ibukota rata-rata membicarakan peristiwa pembunuhan ini.

Telah ditemukan seorang wanita muda dalam keadaan tewas dengan bekas luka tusuk di dada. Polisi sudah mendapatkan orang yang dicurigai, dan akan mengembangkan kasus ini untuk mengetahui pembunuh sebenarnya.

Dalam hal pemberitaan tadi, polisi memang benar telah memiliki setidaknya empat orang tersangka, antara lain:
  • Doni, pacar korban;
  • Klara, teman korban;
  • Rani, teman korban; dan
  • Agus, teman korban.
Maka proses interogasi pun segera dimulai dengan beberapa pertanyaan yang diajukan oleh dua orang penyidik.

'Diketahui dari keterangan yang kami peroleh melalui tetangga sekitar, Anda adalah satu-satunya teman pria korban yang paling sering mengunjungi korban dalam rentang waktu beberapa bulan ini, betul?' Tanya penyidik pertama dengan tegas sambil menyalakan rokoknya.

'Tolong berikan keterangan sejelas-jelasnya dan selengkap-lengkapnya dengan menyebutkan nama Anda, pekerjaan, dan apa alibi Anda saat kejadian.' Sambung penyidik kedua

'Jadi saya adalah salah sorang penulis lepas disebuah majalah, malam itu saya sedang duduk sendirian di sebuah café di bilangan Ibukota Bagian Selatan, saat itu saya melihat Putri (si korban) sedang duduk sendirian... dan yup, singkat cerita saya akhirnya berpacaran dengan Putri dan beberapa kali saya tidur dengannya'

'Lanjut! Lewatkan saja bagian mesumnya, itu nggak penting!' Potong petugas pertama dengan sedikit kesal

'Kemudian apa yang Anda lakukan dirumah korban bersama-sama dengan kedua teman Anda ini beberapa jam sebelum kejadian?'

'Bermain kartu dan menonton pertandingan basket, Pak.'

'Apa yang Anda lakukan setelah selesai bermain dan menonton pertandingan?'

'Semuanya langsung pulang kecuali saya, Pak. Saya pulang paling terakhir diantara yang lainnya... kurang lebih 20 menit setelah yang lain pulang, saya baru pulang, karena Putri meminta saya untuk tinggal sebentar.'

'Maaf, Pak, kami berdua adalah teman Putri sejak lama, dan sejak Putri berpacaran dengan Doni, maka dengan otomatis Doni menjadi teman akrab kami juga, kita berempat memang cukup sering main kerumah ini untuk sekedar bermain kartu atau menonton pertandingan basket, maklum kita bertiga memang waktu SMA sama-sama tergabung dalam sebuah klub basket.' Sambut Agus.

'Namun...' Tanpa diminta, tiba-tiba Rani memotong pembicaraan sambil seraya mengeluarkan sebatang rokok miliknya.

'Iya, ada apa saudari... emm... Rani. Apa yang hendak Anda katakan?'

'Iya, beberapa bulan yang lalu kami berempat sempat berhenti melakukan kebiasaan kami untuk main kerumah Putri, Putri bilang katanya sih dia lagi males melakukannya karena dia lagi ada masalah yang harus diselesaikannya... mungkin Doni bisa menjelaskannya.'

Tanpa berkata apa-apa Doni langsung memandang wajah Rani dengan tatapan tajam dan sedikit malas.

'Don?' Tanya penydik.

'Ini adalah masalah Putri dan keluarganya, ayah dan ibu Putri meminta dia untuk pindah dari rumah ini dan tinggal di luar kota bersama mereka, namun Putri menolak dengan alasan masih banyak hal yang harus diselesaikannya disini, dan juga pindah tempat tinggal tidaklah semudah yang mereka bayangkan, makanya Putri agak sedikit kesal dengan hal itu.'

'Baiklah... Klara, ada yang ingin Anda katakan?'

Klara yang daritadi hanya menangis akhirnya  bicara kepada penyidik, 'Ti... tidak ada, Pak, saya hanya ingin sedikit menambahkan keterangan bahwa siapapun yang masuk dan telah membunuh Put... Putri tampaknya harus dihukum seberat-beratnya, karena selain melakukan pembunuhan, dia juga telah melakukan pencurian!'

'Pencurian?'

'Iya, jam tangan kesayangan yang selalu dipakainya terlihat tidak ada...'




***

Interogasi selesai. 

'Jadi gimana nih menurut kamu?' Tanya penyidik pertama sambil mematikan rokoknya

'Gampang...'

'Gampang gimana?'

'Iya, kasus yang mudah.'

'Jadi siapa pelakunya diantara empat orang yang udah kita tanyain tadi?'

'Pelaku? Ini bukan kasus pembunuhan, korban bunuh diri!'

'Loh? Tapi bukankah Doni si pacar korban nggak punya alibi apa-apa? Lagian walaupun distu ada pisau yang menancap di dada korban, tapi kan disitu nggak ada sidik jari dari si korban kalau ia bunuh diri, mana mungkin si korban yang bunuh diri dalam keadaan tertancap pisau di dadanya bisa menghapus sidik jari yang ada di pisau sampai bersih... dan jam tangan yang hilang?'

'Dari awal, si korban udah nyiapin ini semua, bahkan tuduhan untuk sang pacar pun adalah strateginya. Namun seorang bocah  bernama Danu yang malam tadi keluar untuk beli pulsa di warung ujung jalan sana masih melihat Putri dalam keadaan hidup saat sang pacar Doni ini meninggalkan rumah. Menyoal sidik jari, hal itu tentu juga telah dipersiapkan Putri. Dia menyiapkan sebuah pisau yang didinginkan disebuah balok es berukuran sedang, sehingga dia bisa bunuh diri dengan menaruh balok es di lantai dan dia menjatuhkan diri kearah pisau yang berdiri tegak, dan dengan begitu ia bisa melakukan bunuh diri tanpa meninggalkan sidik jarinya sendiri. Dan jam tangan, mungkin juga ia sengaja membuangnya untuk memberi kesan bahwa pembunuh ini juga telah melakukan pencurian.'

'Jadi?'

'Jadi gimana?'

'Kasus selesai.'

'Tunggu dulu, ini selanjutnya terserah kita, kita mau tutup kasus ini dengan bilang bahwa ini kasus bunuh diri kayak yang saya bilang tadi. Atau... pilihan lainnya adalah kita bisa bilang kalau Doni adalah pembunuhnya. Soalnya menurut saya Doni ini menyimpan rahasia besar sampai menyebabkan si Putri bunuh diri. Dugaan saya sih si Doni ini selingkuh dan ketauan sama Putri, tapi Doni mengancam si Putri dengan sebuah berita besar yang ada di bapaknya si Putri yang pejabat itu.'

'Siapa?'

'Kita belum tahu apa dan bagaimana peran dia dalam kasus ini, tapi tampaknya kasus ini akan menjadi pemberitaan yang besar kalau sampai pers tahu, dan itu terdengar baik buat polisi seperti kita ini, kan?'

'Terus maksudnya kita bisa tanyai Doni soal rahasia itu, kemudian kita nego atau peras si pejabat yang mungkin saja salah satu orang terpercaya penguasa itu.'

'Yaaaah... saya ngikut deh.'