(Movie Review) Jagal/The Act of Killing - Sejarah dari Seorang Oppenheimer

Masih ingatkah kalian pada film berdarah tentang pemberontakan G30S(PKI)? Yang dulu setiap akhir bulan September atau awal Oktober beberapa kali ditayangkan di televisi. Saya ingat dulu pernah menonton film itu waktu masih SD, dan film itu membuat saya benar-benar ketakutan, takut tiba-tiba saat lagi asik bobo-boboan lucu saya diculik terus dipotong-potong. Hiiii... Oke, saya rasa anda pun pernah menyaksikan film itu, entah keseluruhan atau hanya sepotong saja karena tidak kuat melihat kekejaman yang ditampilkan. Namun pertanyaan saya, apakah film itu benar diangkat dari kisah yang terjadi saat itu? Apakah antek-antek PKI memang sekejam itu? Jika tidak lalu apa tujuannya film tersebut dibuat?

Tak lama setelah peristiwa 'berdarah' tahun 60an itu terjadi, Presiden Sukarno dan era Orde Lama pun berakhir ditandai dengan naiknya Suharto sebagai Presiden dan dimulailah era yang sampai sekarang diingat sebagai Orde Baru. Setelah naiknya Suharto menjadi Presiden, dimulailah 'perburuan' antek-antek PKI, bahkan sampai sekarang kutipan Presiden Suharto masih banyak diingat, "berantas PKI beserta antek-anteknya!" (ya, kurang lebih begitulah). Sejalan dengan instruksi tersebut, maka PKI menjadi sesuatu yang tabu untuk dibicarakan ditengah-tengah masyarakat, salah-salah anda berbicara bisa-bisa anda dicurigai dan mungkin besok anda telah dibantai oleh orang-orang suruhan Suharto.

Baru setelah Orde Baru tumbang dan era informasi berkembang dengan pesat, berbagai macam kecurigaan mulai timbul tentang keabsahan sejarah kelam tahun 60an itu. Banyak orang bilang bahwa cerita itu hanya fiktif saja yang dibuat-buat agar orang (pada masa itu) alergi dengan yang namanya PKI dan bila bertemu dengan seorang PKI maka bunuhlah dia. Ada yang bilang juga ini semua cuma akal-akalan Suharto yang telah 'dibisikin' Amerika untuk menjatuhkan Presiden Sukarno yang waktu itu dicurigai dekat dengan negara-negara komunis... Ya, asal mulanya sih cuma 'tebar-pesona' ideologi pascaperangdingin antara AS-Uni Soviet. Banyak informasi yang bisa anda cari. Mungkin banyak juga yang palsu, semuanya tergantung kepada logika anda kira-kira versi mana yang paling masuk akal bagi anda.

The Act of Killing Poster

Oke, kembali ke film ini. 
Diatas tadi saya katakan bahwa pada tahun 60an itu, orang 'suruhan' Presiden Suharto melakukan pembantaian kepada orang-orang terduga antek PKI. Siapa yang melakukannya menurut anda? Apakah tentara yang melakukannya? Ternyata bukan, yang melakukan pekerjaan keji ini ternyata adalah preman yang dikumpulkan dari berbagai tempat yang dengan bangganya melakukan pekerjaan ini atas dasar (kata mereka, sih) kesetiaan pada Pancasila.

Jadi gini lho, dek, caranya mbunuh...

Perlu diingat, film ini adalah film dokumenter, jadi jangan bingung kalau alurnya terkesan berantakan dan seperti loncat-loncat. Joshua Oppenheimer adalah seorang sutradara Amerika yang tertarik untuk membuat film dari sejarah kelam bangsa Indonesia ini, untuk itulah dia menanyai seorang Narasumber atau yang menurut saya lebih pantas disebut sebagai orang gila yang merupakan pelaku dari pembantian terhadap antek-antek PKI. Ya, ANWAR CONGO dulunya adalah seorang preman yang mendapat tugas untuk mencari dan membunuh setiap orang yang diduga ada hubungannya dengan PKI.

Si Tukang jagal, Anwar Congo

Di awal film ketika melihat Anwar Congo dengan riangnya menceritakan bagaimana cara ia membunuh langsung membuat saya pusing dan sambil berkata dalam hati bahwa memang benar rasanya orang ini sudah gila. Dengan bangganya ia bercerita bahwa sehabis membunuh dengan cara yang tidak manusiawi (btw, membunuh ada yang manusiawi gak sih? hehehe) tadi dia langsung menari salsa dan mabuk agar hepi... Hadeuh, gila! Dan juga bagaimana cerita seorang penjagal lain yang  tergabung dalam organisasi Pemuda Pancasila membunuh saat Gerakan Pengganyangan Cina di Medan Tahun 1966 yaitu seorang calon mertuanya sendiri yang ia bunuh hanya karena ia beretnis Cina, dan dianggap PKI, kemudian mayatnya dibiarkan begitu saja dibuang di selokan, atau yang lainnya adalah saat seorang yang menurut saya mukanya sangat menjijikan menceritakan bagaimana nikmatnya memperkosa anak berusia 14 tahun... atau melihat bagaimana ibu-ibu yang tak berdaya diseret kesana kemari hanya karena ia PKI dan melihat bagaimana penderitaan etnis Cina pada masa-masa itu yang terus ditekan oleh anggota dari Pemuda Pancasila.

Sayang sekali film ini hanya menampilkan apa yang terjadi saat masa Orde Baru, jadi kita tidak benar-benar tahu apa yang sebenarnya dilakukan PKI sampai sebegitunya diburu dan dibantai. Walaupun begitu, bagi saya film ini cukup objektif karena memandang peristiwa ini tidak hanya dari sudut pandang seorang Anwar Congo saja, bahkan didalamnya banyak tokoh yang mungkin anda kenal... ia memang betul pada massa itu kita sangat melihat bahwa negara Indonesia amat tergantung pada organisasi massa seperti Pemuda Pancasila (PP) atau sekarang banyak yang menyebutnya Preman Parkir (sama-sama PP). Preman = free man, artinya orang-orang yang berpikir bebas dan masih dibutuhkan oleh negara Indonesia untuk menjaga ketertiban masyarakat untuk mengisi kekosongan dari peran polisi (kayak FPI gitu dong ya?).

Menjelang akhir, film ini berpindah fokus kepada cerita bagaimana andaikan para penjagal ini ditampilkan (atau berakting) menjadi seorang yang hendak dibunuh atau dibantai... terlihat sekali bahwa ternyata biarpun mereka adalah seorang pembunuh, mereka tetaplah manusia biasa yang stress juga bila mengingat semua pembantaian yang pernah mereka lakukan sendiri.

Lagi Akting...

Jadi, menurut saya film The Act of Killing (Jagal Indonesia) ini bukanlah film yang dapat dinikmati siapa saja. Jika anda mau tahu dan penasaran dengan sejarah kelam yang terkesan ditutupi ini, silahkan tonton dan ingat, persiapkan diri anda. Bagi anda yang mengharapkan film sadis yang berisi potong tangan, potong telinga, seperti franchise SAW, maka buang harapan itu! Film ini mengerikan dan menjijkan menurut saya, tapi kengerian itu ditampilkan dari orang-orang yang bercerita.

Good job, Joshua Oppenheimer! Yang berhasil dan entah bagaimana caranya dia berhasil memasuki rumah-rumah bekas mafia (atau preman lebih tepatnya) dan berhasil mewawancarai mereka untuk film dokumenter ini. Film ini sangat sulit dicari, di kota saya film ini tidak ada di bioskop (mungkin di kota lain juga saya rasa tidak ada), dan Joshua Oppenheimer selaku sutradara dilarang lagi membuat karya apapun di Indonesia... ya jelas alasannya karena ia seakan menelanjangi sejarah kelam bangsa ini.

...kamu botak ya ternyata.

Note: (Saya mendapatkan film ini dari situs penyedia torrent, itupun amat sulit. Selamat mencari dan menonton!)... oops saya dapat info ternyata sekarang film ini bisa kamu unduh di http://actofkilling.com lho... :)