(Movie Review) V/H/S 2 - Sebuah Antologi Horor

V/H/S 2?

Apa maksud singkatan itu?
Baiklah, sebelum saya mulai bercerita tentang film ini sebaiknya sedikit saya jelaskan sebentar kalau V/H/S itu singkatan dari Video Home System atau semacam pemutar-perekam video yang pernah populer beberapa tahun kebelakang.

Ada yang masih punya ini?
Film V/H/S sendiri adalah sebuah film antologi (kumpulan beberapa cerita yang dijadikan satu) horor dari enam cerita yang dibuat oleh sutradara yang berbeda yang lumayan populer di luar negeri. Berangkat dari kepopuleran inilah, maka pembuatan sekuel film ini dilakukan. Kelemahan film V/H/S yang pertama adalah timpangnya kualitas antara satu film dengan film lainnya dan juga durasi yang dirasa terlalu panjang. Maka, di V/H/S 2 ini durasinya pun dipangkas sehingga berbeda cukup jauh dengan film pertamanya, hanya terdapat 4 cerita pendek saja didalamnya. 

Sejujurnya, saya belum pernah menonton seri V/H/S yang pertama. Namun yang membuat saya tertarik menonton film keduanya ini adalah membaca nama sutradara yang ikut menyertakan ceritanya salah satunya berasal dari Indonesia. Yup! Ceritanya pun kental dengan nuansa yang menurut saya Indonesia banget. Siapa dia? Lanjut baca ya...


So here goes the review...

Cerita diawali oleh dua detektif bodoh yang masuk ke sebuah rumah kosong untuk mencari seorang mahasiswa yang menghilang dan  menyaksikan sebuah video dirumah tersebut, yang akan membawa kita kedalam 4 cerita berbeda. Menurut saya, film antologi harusnya memiliki benang merah yang kuat antara cerita utama dan cerita potongan-potongannya. Namun inilah kelemahan fatal film V/H/S 2... ceritanya gak nyambung antar satu kisah dengan kisah lainnya dan benang merahnya kusut... hehehe. Mending langsung loncat ke 4 ceritanya deh daripada kamu buang waktu liat tingkah dua detektif dungu ini.

V/H/S 2 Poster

PHASE I CLINICAL TRIALS

Cerita pertama yang berjudul Phase I Clinical Trials disutradarai oleh Adam Wingard dari Amerika. Jalan ceritanya sendiri menurut saya tidak terlalu abru, karena bagi yang telah sering menyaksikan film Horror setidaknya pasti familiar dengan jalan ceritanya dimana seorang buta matanya ditanam sebuah alat yang dapat melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat manusia biasa. Akibat manusia dari dimensi tadi sadar bahwa mereka dapat terlihat oleh sang pasien, maka mereka pun mulai meneror sang pasien. Dari keempat cerita, saya rasakan memang tepat film ini ditaruh diawal, karena memang tensinya cukup tinggi dan berulang kali saya dibuat kaget... apalagi sudut pengambilannya adalah orang pertama, jadi sudah tentu apa yang dilihat sang pasien kamu pasti melihatnya juga! Hiiiii...

A RIDE IN THE PARK

A Ride in the Park adalah judul yang dipakai untuk cerita kedua. Yang beberapa scene dilihatkan dengan camera Go-Pro yang ada di helm seorang pengendara sepeda. Ceritanya sendiri berkisah tentang apa yang beberapa tahun terakhir ini sangatlah populer... ZOMBIE! Aha! Bagi kamu yang mengikuti serial TV The Walking Dead pasti tahu betul apa itu zombie, apa kelemahannya, dan apa yang dia sukai. Namun sayang, nama seorang Eduardo Sanchez yang tidak lain pernah membuat film The Blair Witch Project yang mirip-mirip Paranormal Activity (ada sebelum PA) tidak mampu membuat kisah zombie-zombiean ini terasa menarik dan baru... zombie bergenre drama? The Warm Bodies terasa lebih menarik! Seru? Ah, tidak juga, kalah jauh dibandingkan salah satu episode yang ada di serial TV The Walking Dead.

"Saya gigit ya?"

SAVE HAVEN

Here comes the king... Save Haven. Pernah dengar nama Gareth Evans dan Timo Tjahjanto? Lupa? Ah coba saya bantu mengingatkan sedikit... Gareth Evans adalah salah satu sutradara yang Indonesia yang namanya sedang naik daun didalam (atau mungkin juga diluar negeri) karena karyanya The Raid! Ingat? Baguslah... Timo Tjahjanto juga populer didalam negeri, lho. Ingat film Rumah Dara? Ya, dialah sutradaranya. Lalu bagaimana hasil karya dua sutradara kebanggaan Indonesia ini? Menurut saya bagian ketiga ini adalah yang paling bagus dari cerita yang lainnya. Dengan nuansa yang Indonesia banget dan sedikit berbau agama, mengingatkan saya pada salah satu tayangan yang pernah saya saksikan di NatGeo Channel... Kisah nyata yang pernah terjadi di Amerika sana. Evans + Timo? Aaah... bayangkan saja keseruan film The Raid ditambah nuansa khas yang ada di film Rumah Dara... Blood... blood everywhere! Tetap seru kok, biarpun kemunculan seorang Epy Kusnandar selalu memancing tawa saya, orang itu terasa tidak pernah serius wajahnya hehehe.

"Bukan, ini bukan serial Kejar Kusnadi." 

SLUMBER PARTY ALIEN ABDUCTION

Sayang sekali, untuk cerita keempat Slumber Party Alien Abduction terasa sangat kebanting dengan cerita sebelumnya... Tidak seru, tidak seram, terlalu banyak kamera bergoyang, cerita yang tidak jelas maksudnya. Ah, sangat disayangkan padahal si sutradara sendiri, Jason Eisner sebelumnya pernah cukup sukses menggarap film dengan genre cult-horror seperti apa yang menjadi spesialisasi seorang Gareth Evans.

Jadi, kesimpulan saya... V/H/S 2 adalah sebuah antologi horor yang memiliki potensi namun terasa kurang digarap dengan serius oleh sutradara yang ada didalamnya. Hanya Save Haven dan Phase I Clinical Trials yang menurut saya sukses, dan tidak ada salahnya kamu menonton film ini untuk melihat kedua potong cerita tersebut... dan untung saja Save Haven mendapat durasi yang lebih panjang, sehingga saya masih bisa merekomendasikan film ini untuk kamu. :))