Sebuah Komitmen (Joni dan Nina)

Di sebuah cafe.
Ibukota Bagian Selatan. 
'Aku mencintaimu...'

'Sungguh?'

'Iya, kenapa? Apa kamu meragukan nya?'

'Semua orang pasti pernah ragu akan sebuah hubungan. Bahkan suami isteri yang telah menikah pun pasti pernah mengalami keraguan dalam hubungan mereka. Wajar. Manusia.'

'Lalu pertanyaanku apakah kamu meragukan cinta ku?'

'Tergantung.'

'Tergantung apa?'

'Tergantung bagaimana kamu membuktikan nya.'

'Bagaimana kalau aku berniat melamar mu? Belum sekarang, tapi hal itu pasti aku lakukan, nanti, disaat-saat tertentu yang tidak bisa kuberitahu sekarang.'

******

Joni adalah seorang pria muda yang baru berusia 27 tahun tapi kekayaan nya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, bahkan tanpa korupsi pun hidup nya sudah lebih dari cukup. Bagaimana tidak, sehabis menyelesaikan studi nya di Fakultas Hukum Universitas Nomor Satu Joni langsung diterima kerja di salah satu Firma Hukum Yang Juga Nomor Satu milik seorang pengacara yang nama nya sering muncul di TV, menangani perkara perceraian artis... atau kadang perkara artis yang korupsi, ya pokoknya semua perkara yang melibatkan artis pernah ditangani nya. Karena pekerjaan nya mengharuskan dia untuk selalu tepat waktu, Joni selalu membawa-bawa jam saku klasik yang dihadiahi teman nya kemanapun ia pergi, maklum, jam itu tidak banyak yang punya, jadi memilikinya adalah sebuah kebanggaan tersendiri.

Walaupun hidup sebagai orang yang luar biasa mapan dan memiliki segala yang dia inginkan, Joni adalah pribadi yang kesepian. Maklum, sudah hampir beberapa tahun ini ia hidup sendiri alias menjomblo (bahasa abege sekarang sih gitu) sepeninggal kekasih nya yang berselingkuh dengan pria lain.

‘Hah! Dasar perempuan matre!’ Bentak Joni dalam hati.

Joni yang tinggal di sebuah rumah yang berada di komplek pemukiman mewah di bilangan Ibukota Bagian Selatan ini punya hobi yang telah sering dia lakukan sejak SMA yaitu berlari. Setiap Sabtu pagi atau kapanpun selama dia sempat melakukan nya, maka dia akan keluar rumah untuk berlari. Sekalian lihat-lihat siapa tahu ada perempuan cantik dan lucu yang bisa didekati nya. Maklum Joni kan masih single.

'Selamat pagi, mbak, mas, buk, pak. ' Joni menyapa orang yang lewat sambil memilih-milih lagu di iPod nya.


'Pagi, nak, lari nih?'


'Iya, kang, mau lari biar sehat dan bugar. '


'Emm oke deh, semangat nak lari nya!'


'Permisiii, Kang...'

Begitulah yang Joni lakukan setiap ada kesempatan berlari di komplek, Joni selalu mencoba ramah ke setiap orang yang lewat di komplek itu. Maklum, karena begitu sibuk nya agak sulit bagi Joni untuk bisa bersosialisasi dengan orang di komplek tempat ia tinggal itu. Selain itu, kebanyakan orang yang tinggal di komplek tersebut adalah orang kantoran juga, jadi bakal sulit kalau mau bertegur sapa setiap hari, akhir pekan adalah satu-satu nya momen dimana orang di komplek bisa saling bersosialisasi.

******

Seperti telah disebut sebelum nya. Selain berlari demi kebugaran nya, ada motivasi lain yang membuat Joni ingin berlari tiap kesempatan yang ia punya. Betul, apa lagi kalau bukan masalah hati. Selidik punya selidik ternyata di daerah itu ada seorang perempuan yang belum Joni ketahui nama nya tapi cukup sering terlihat karena perempuan itu pun sering keluar rumah di akhir pekan, sama seperti Joni, untuk berolahraga.

Iseng, Joni kadang memutar dari arah lain dengan tujuan agar bisa berpapasan dengan si perempuan cantik dan lucu tersebut. Atau yang lebih bodoh lagi adalah Joni sengaja berhenti berpura-pura mampir di tempat bubur ayam langganan untuk dapat melihat si gadis lewat dihadapan nya. Dan sering juga Joni berlari di belakang dengan jarak yang tidak terlalu dekat untuk sekadar memastikan kalau si gadis benar-benar berlari sendirian dan tidak bersama pria yang bisa jadi adalah pacar atau sekedar gebetan atau cem-cemannya. Karena seperti yang sudah-sudah nama nya juga cewek cantik pasti udah ada pacar nya. Beruntung yang ini single, pikir Joni.

Sampai habis akhir pekan di minggu ini, Joni masih belum tahu siapa nama perempuan cantik berambut panjang agak pirang itu. Akhir pekan berikutnya pun Joni melakukan hal yang dilakukan nya di akhir pekan sebelum nya, tanpa perubahan suatu hal apapun. Belum ada perkembangan hubungan.

Di minggu ketiga ini Joni menyadari bahwasanya dia harus memulai, karena jika dalam hal memulai perkenalan saja ia tidak bisa, tidak mungkin ada tahapan selanjutnya. Melalui tetangga lain, Joni tahu nama perempuan itu Nina, 25 tahun seorang pekerja di Bank Milik Pemerintah. Setelah tahu nama nya, Joni dengan berbagai persiapan di hari minggu itu memantau Nina dari kejauhan... dan ternyata gayung bersambut, Nina sedang berjalan kaki menuju swalayan yang ada dekat dengan pintu masuk komplek, setidaknya perkiraan itu diyakini Joni. Tanpa banyak basa basi Joni pun melangkahkan kaki nya ke swalayan tersebut, benar saja disana dia akhirnya bisa menemukan si perempuan cantik dan seperti telah diberi kemudahan oleh semesta, tanpa perlu banyak menjelaskan detil nya seakan sebuah kaset yang di fast forward, cerita Joni dan Nina sampai pada tahapan dia dapat berkenalan dan mengobrol sepanjang jalan pulang dengan Nina.

Bukan tanpa persiapan, Joni ternyata telah menyiapkan secarik kertas kecil untuk diselipkan ke plastik bawaan Nina yang isinya kurang lebih begini:

Dear, Nina.
Sebelum nya maaf kan jikalau kertas... atau emm surat ini membuat kamu terganggu atau risih atau pun takut. Maafkan juga kalau aku memang sudah tahu nama kamu dari tetangga sekitar sini. Bukan, aku bukan lah pria mata keranjang genit yang dengan begitu mudah nya tertarik dengan perempuan. Tapi entah mengapa begitu aku pertama melihat kamu aku tahu bahwa aku harus dapat berkenalan dan mengajak kamu keluar.

Sekarang aku sudah kenal kamu, maka lewat surat yang serba biasa ini lah aku berniat mengajak kamu keluar dikala senggang untuk makan malam. Kalau kamu bisa dan berkenan, aku menunggu jawaban kamu bisa kamu kirimkan ke nomor 081756677777 emmm terdengar janggal disini, seperti jawaban kuis. Sekali lagi maaf jikalau aku menakuti kamu dengan surat ini.
Salam, tetangga mu,

Joni.

‘SETUJU!’ Sebuah pesan masuk diterima Joni tidak beberapa lama setelah kejadian berkenalan dan mengobrol di swalayan komplek tadi. Ya, betul, itu adalah sebuah pesan singkat masuk dari Nina, si perempuan cantik.



******

Sudah cukup larut sebenarnya, tapi jalanan ibukota masih menampakkan kesibukan nya. Entah apa yang dilakukan orang-orang di jam selarut ini. Entah biar kelihatan sibuk atau memang benaran sibuk. Ah, perduli amat, toh mungkin saja orang-orang yang sekarang ada dijalanan ini adalah sisa-sisa orang yang petang tadi tidak bisa bergerak dikarenakan kemacetan ibukota yang terdengar tidak pernah bersahabat, mungkin cuma di iklan yang sering muncul di bulan ramadhan beberapa tahun lalu saja kemacetan terasa indah dan begitu spiritual, itu juga karena diiringi lagu Ebiet G Ade.

Joni dan Nina adalah salah dua diantara orang-orang yang masih berkeliaran di jalanan malam itu.
Di dalam mobil yang melaju agak kencang...

‘Jadi bagaimana?’


‘Bagaimana apanya?’



‘Itu lho... yang tadi aku katakan, mau nggak kalau kita sama-sama serius dengan hubungan ini?’



‘Kalau dibilang mau sih aku ya pasti mau mencoba.’



‘Lho, kok, mencoba?’


‘Iya, mencoba.’
‘Bagaimana kalau kita tidak hanya sekedar mencoba, tapi kita sama-sama berkomitmen? Karena menurutku, bukan menurut ramalan facebook hehehe, kita punya kecocokan dalam banyak hal kan. Dan kalaupun cinta aku ini terlihat bodoh aku mau menjadi bodoh bersama kamu.’


‘Hahaha bisa aja kamu, nah gitu dong, perempuan kan suka diberi penjelasan yang jelas gitu, jangan Cuma sepotong-potong kayak mau gak jadian ama aku? tanpa ada basa-basi dikit jadi nya malah basi hehehe.’
*Joni dan Nina berciuman*
Mereka setuju menjadi dua orang yang berpacaran malam itu, sekitar 2 bulan setelah kejadian kenalan dan mengobrol di swalayan komplek. Pacaran yang mereka jalani bukanlah sebuah hubungan yang biasa dilakukan oleh anak-anak muda zaman sekarang, pacaran tidak hanya sebuah proses ketika kamu bukan remaja lagi, lebih dari itu pacaran adalah sebuah komitmen yang harus dipertahankan untuk menatap hubungan kedepan yang lebih serius dan bertanggunng jawab.

Hubungan Joni dan Nina bukanlah hubungan abege yang setiap menit bahkan setiap detik berkabar sudah makan atau belum sudah pipis atau belum atau juga ucapan met bobo eaaa! Bukan, bukan hubungan yang seperti itu. Dan sejauh ini hubungan yang mereka jalani pun baik-baik saja dan tetap hangat seperti awal baru jadian dulu. Banyak hal yang membuat hubungan mereka langgeng dan tidak memenuhi masalah pelik. Selain karena sama-sama berkomitmen, kedua nya memang adalah sejoli yang cocok. Singkat kata, Joni adalah tipe Nina dan Nina adalah tipe Joni. Match!

******

Kalau kata lagu dangdut, malam minggu adalah waktu kunjung pacar.
Begitu juga malam minggu ini.

Hampir 1.5 tahun hubungan yang telah mereka jalani sebagai sepasang kekasih dan sebentar lagi mungkin mereka akan melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius. Dua orang yang telah sama-sama mapan dan dewasa untuk menikah. Joni seorang pengacara sukses paruh baya dan Nina seorang wanita karir sukses dengan kehidupan yang nyaris sempurna karena memiliki kekasih yang begitu mencintai nya.

Sampai pada suatu malam minggu yang menurut Joni sangat spesial, karena dimalam itu dia berencana untuk melamar dan menyatakan hasrat nya untuk menikahi Nina tepat dimalam itu di hari ulang tahun Nina. Malam itu sengaja Joni datang tanpa kabar terlebih dahulu dan baru mengabari untuk mengajak makan malam ketika dia telah sampai di depan rumah Nina.

...60 menit berlalu
‘Ada yang bisa dibantu, Nak?’


‘Saya sedang menunggu seorang perempuan cantik yang tinggal disini, Pak.’


‘Oh, perempuan itu, Dian?’


'Dian siapa, Pak? Nama nya Nina...’


‘Nina?’


‘Iya, Pak, nama nya Nina.’


‘Kamu yakin orang yang kamu temui benar bernama Nina? Penguhuni yang bernama Nina sih memang pernah tinggal disini, Nak, tapi itu sudah lebih dari setahun yang lalu, sebelum akhirnya 7 bulan yang lalu ada kejadian yang menggemparkan komplek ini. Nina ditemukan tewas dengan bekas cekikan di leher dan mayat nya dipotong-potong kemudian disembunyikan di dalam sebuah lemari yang penuh dengan tumpukan baju dan garam untuk menyembunyikan  bau busuk dari mayat nya. Sayang sekali sampai saat ini polisi belum menemukan pelaku dari kejahatan sadis tersebut. Penyelidikan polisi baru menduga bahwa pembunuhnya adalah kekasih korban sendiri yang bekerja sebagai pengacara paruh baya di salah satu firma hukum terkenal di Ibukota... dan dari diary korban ditemukan petunjuk bahwa si kekasih selalu mengantongi jam saku klasik kesayangan nya.’

******
Beberapa saat sebelum terjadinya peristiwa pembunuhan...
'Aku rasa aku tidak perlu lagi menjelaskan semuanya padamu, Joni!!! Dari awal aku tidak mencintaimu! Aku tau kau memang teramat sangat mencintaiku. Tapi maaf, berulang kali aku mencoba aku tetap tidak bisa. Aku? Aku memang hanya mengincar harta mu. Aku tidak pernah yakin dengan mu, maka aku menerima lamaran nya waktu itu. Iya, aku akan menikah dengan pria lain.'

END!JADI, SIAPA JONI?