Burung-Burung Besi

Mari kita kembali pada tanggal 7 Desember 1941.

“Burung-burung besi” itu berangkat, ketika waktu menunjukkan pukul 06.00 pagi. 200 mil dari Pearl Harbor, pesawat tempur dan pembom Jepang, "Kates-Val-Zero", bergerak menuju sasaran. Pagi itu bayangan “burung-burung besi” yang bergerak, memenuhi permukaan Samudra Pasifik. Laut sepi menyimpan dingin. Sebeku wajah Fuchida, Murata, dan Takahashi. Merekalah tiga perwira penerbang Dai Nippon. Utusan maut yang akan membumi-hanguskan Pearl Harbor, pelabuhan AS di Pasifik, yang malam sebelumnya diliputi pesta pantai. Waktu menunjukkan pukul delapan kurang lima menit, ketika Laksamana Muda William R. Furlong menangkap sebentuk pesawat mencuat dari perbukitan utara Pearl Harbor. Sebuah bom lalu meletup diantara armada kapal. Sebelum bendera “Roger” dikerek, "Kates-Val-Zero" telah memuntahkan kemarahannya dimana-mana. "West Virginia" dan "Oklahoma" tenggelam. Disusul oleh "Tangier", "Utah", "Raleigh", dan "Detroit." Armada kapal AS wilayah pasifik itupun remuk redam. 2400 awak pertahanan meregang nyawa di atas pasir halus, atau mengambang ringan di atas permukaan laut. Tanggal 7 Desember 1941, pukul 09.45, armada AS di Pearl Harbor berhasil dilumpuhkan. "Kates-Val-Zero", pesawat tempur dan pembom Dai Nippon itu kembali menuju Jepang dengan membawa kemenangan. Isokuru Yamamoto-arsitek penyerangan Pearl Harbor- mempersembahkan kemenangan besarnya untuk Tenno Heika.

Jauh sebelum serangan sporadis terhadap Pearl Harbor, pada 1 September 1939, tiga sosok “burung besi” menyelinap dalam kegelapan kota Vistula. Dinihari itu, tiga buah Stuka – Sturzkampfflugzeuge, pesawat pembom tukik milik Luftwaffe (AU Jerman)- dengan bom dan “peluit kematian”-nya, merobohkan Jembatan Dischau yang masih berselimutkan kabut putih. Ketika sinar matahari memancar dari timur, “burung-burung besi” itu telah tiba di Warsawa, ibukota Polandia. Jerit “peluit kematian” kemudian memenuhi angkasa. Mengiringi debum bom-bom SC 250 meluluh-lantakkan pangkalan Putzig, Krakow, dan Lemburg, yang hanya terkesima menyaksikan kedahsyatan "Blitzkrieg", serangan kilat pasukan Jerman itu. Polandia jatuh 10 hari kemudian. Divisi-divisi tempur mereka berhasil ditaklukkan oleh serdadu-serdadu Jerman. Dalam tempo 10 hari, Stuka telah menjadi monster yang sangat ditakuti. “Blitzkrieg”, serangan kilat Stukagruppen, telah menciutkan nyali pemimpin-pemimpin Eropa. Lengking “peluit kematian”, terompet Jericho yang dipasang oleh para penerbang Jerman pada roda batang utama Stuka, samara-samar berdesing di setiap telinga pemimpin negara-negara Eropa.

Betapa memukau atraksi "burung-burung besi" itu di udara. Christian Bale, bintang cilik Inggris, memerankan dengan sempurna sosok seorang bocah yang terkagum-kagum akan atraksi "burung-burung besi" itu dalam Empire Of The Sun. Ribuan anak, jutaan bocah di dunia, kemungkinan memiliki kekaguman serupa dengan keterkaguman tokoh anak hilang yang diperankan Bale. Atraksi "burung-burung besi" itu mereka tiru dengan cara meliuk-liukkan replika pesawat kayu, dengan mulut menirukan dengungan terompet Jericho. Kekaguman bocah-bocah itu, atau kekaguman kita selagi bocah, tanpa sadar merupakan bentuk kekaguman akan sebuah aksi mesin pembunuh. Bagi kita atau mereka yang tidak pernah mengalami situasi perang, teristimewa suasana serangan udara, mungkin menganggap aksi pesawat tempur itu sebagai hal biasa. Siapa yang tak berdecak menyaksikan ratusan "burung besi" terbang lalu meliuk rendah di atas kepala ? Siapa yang tak terpukau menyaksikan manuver "burung besi" itu memuntahkan bom tukik, hingga berdebum di atas bumi ? Tentu, dengan enteng kita mengagumi. Duduk rapi depan Home Video. Berdecak sambil menyaksikan : dahsyatnya pertempuran udara dalam film "Tora ! Tora ! Tora !"

Kita memang bukan anak pantai Honolulu yang bersiap memetik kelapa, ketika pesawat tempur Zero memuntahkan peluru kanon dari moncong mitraliurnya, pagi hari 7 Desember 1941. Kita juga bukan bocah Warsawa yang menggigil di lubang perlindungan, ketika ratusan pesawat Stuka membombardir ibukota Polandia, 1 September 1939. Sebagian besar kita yang hidup sekarang, bukan pelaku figuran atau pelaku utama dalam peristiwa-peristiwa memiriskan yang mengawali Perang Dunia II di Asia dan Eropa itu. Tapi, apakah bunyi desing atau teriak kesakitan dari mangsa "burung-burung besi" itu tidak pernah lekat di hati dan telinga dunia ? Sehingga, pesawat tempur masih terus dimodifikasi demi efisiensi dan efektifitas operasi militer sampai saat ini. Seandainya saja Allah menakdirkan kita hidup di tahun 1939 atau 1941. Andai anak pantai Honolulu itu adalah diri kita, dan bocah Warsawa itu adalah buah hati kita sendiri. Tentu kita tak akan pernah mengagumi atraksi 'burung-burung besi' pembunuh itu. 'Kisah burung-burung besi' itu akan menjadi cerita duka yang selalu ingin kita kubur dalam-dalam. Namun, begitulah ingatan. Begitulah sekat ruang dan waktu. Semakin jauh jaraknya, semakin lenyap rasa empati kita terhadap kejadian yang berlangsung di kurun yang telah lalu. Ingatan manusia yang terbatas, umur manusia yang terpilah dalam pendek usia, membuat sejarah atau kisah menjadi tidak mudah menelurkan hikmah. 'Kisah Burung-burung Besi' masih dikenang sebagai cerita penerbangan heroik, atau kisah manuver udara yang mencengangkan. Jarang orang-orang mengenang, atau sekedar meyakini "Kisah Burung-burung besi" itu sebagai : Kisah Burung Pemangsa Manusia Yang Melumatkan Harmoni Kehidupan.